Ikhlas Sebagai Penunjuk Utama Jalan Dakwah

 

Seri: Teladan Terbaik dalam Metode Dakwah.

Dari rancangan inimaka berangkatlah dakwah,dan setelah beberapa muqaddimah serta studi ini maka dakwah berjalan, dengan ikhlas sebagai penunjuk utamanya, pasrah kepada Allah ta’ala sebagai pemimpinnya, dan kesungguhan serta melepaskan diri dari hanya memikirkan keuntungan materi dan hasil duniawi sebagai pintunya. Dan sungguh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mencontohkan hal-hal tersebut dengan contoh yang luhur, baik dengan perkataan maupun tindakan.

Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi bahwa Umar radhiyallahu‘anhu suatu hari masuk kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,dan pada saat itu Rasulullah sedang (tiduran) di atas tikar (yang kasar) sehingga membekas di sisi badan beliau. Melihat hal itu, Umar berkata:

يَا رَسُولَ اللهِ، لَوِ اتَّخَذْتَ فِرَاشاً أَوْثَرَ– أَيْ أَلْيَنَ وَأَوْطَأَ- مِنْ هَذَا، فَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا لِي وَلِلدُّنْياَ ؟ ماَ مَثَلِي وَمَثَلُ الدُّنْياَ إِلاَّ كَرَاكِبٍ سَار فِي يَوْمٍ صَائِفٍ فَاسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ سَاعَةً ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا (رواه الترمذي وصححه وابن ماجه 2/255)

“Duhai Rasulullah, andai engkau mengambil kasur yang lebih lembut dan lebih empuk dari tikar (kasar) ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: Apa urusanku dengan dunia? Tiada perumpamaanku dengan dunia ini kecuali hanya seperti penunggang yang menempuh perjalanan di hari yang panas, lalu berteduh sejenak di bawah pohon, lalu (setelah itu) berjalan (lagi) dan pergi meninggalkannya.” (HR. at-Tirmidzi dan beliau menghukuminya shahih, dan Ibnu Majah 2/255)

Dan dalam hadits yang lain Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallambersabda:

إِنَّ اللهَ لَمْ يَأْمُرْنِي بِكَنْزِ الدُّنْياَ وَلاَ بِاتِّباَعِ الشَّهَوَاتِ، فَمَنْ كَنَزَ دُنْياَ يُرِيدُ بِهاَ حَياَةً بَاقِيَةً فَإِنَّ الْحَياَةَ بِيَدِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، أَلاَ وَإِنِّي لاَ أَكْنِزُ دِينَارًا وَلاَ دِرْهَماً وَلاَ أَخْبَأُ رِزْقاً لِغَدٍ (رواه أبو الشيخ في الترغيب 2/257)

Sesungguhnya Allah tidak memerintahku untuk menyimpan (harta) dunia, juga tidak untuk mengikuti keinginan-keinginan syahwat. Maka siapapun yang menyimpan (harta) dunia dengan keinginan untuk hidup abadi maka sesungguhnya hidup hanya di tangan Allah azza wajalla saja. Ingatlah bahwa sesungguhnya aku tidak menyimpan satu dinarpun atau satu dirhampun, dan aku tidak menyimpan rezeki buat besok.(HR. Abu asy-Syaikh dalam at-Targhib 2/257).

Namun janganlah anda menyangka bahwa hidup prihatin dan sederhana yang digambarkan oleh beberapa hadits ini bertentangan dengan prinsip kerja, usaha, dan mencari pekerjaan yang halal melalui jalur perdagangan dan transaksi. Hal-hal ini adalah salah satu dasar yang dianjurkan oleh agama Islam, dan agama Islam menetapkan pahala serta keutamaan yang tidak samar lagi bagi mereka yang mencarinya dengan benar dan jujur. Sebab tak ada korelasi antara berusaha dan bekerja yang halal dengan hidup sederhana.

Terkadang seseorang giat dalam bekerja dan bersemangat dalam berusaha namungaya hidupnya tetap sederhana, prihatin, suka berderma,murah hati, memberikan manfaat kepada yang laindengan memberikan pinjaman dan kebaikan, tak ada dalam dirinya kerakusan atas harta serta tak ada ketertarikankepada harta dunia, dan dia(mampu) mengalahkan segala keinginan (nafsu) dan harapannya. Dan bukan di sini tempat untuk menjelaskan tema bahasan ini.

Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallamtelah mengarahkan cara berpikir Islami yang menjadi penunjuk utama di medan dakwah kepada kenyataan ini, saat beliau bersabda di atas mimbar beliau :

إِنِّي بَيْنَ أَيْدِيكُمْ فَرَطٌ، وَأَناَ عَلَيْكُمْ شَهِيدٌ، وَإِنَّ مَوْعِدَكُمُ الْحَوْضُ، وَإِنِّي لَأَنْظُرُ إِلَيْهِ مِنْ مَقَامِي هَذَا، وَإِنِّي لَسْتُ أَخْشَى عَلَيْكُمْ أَنْ تُشْرِكُوا وَلَكِنِّي أَخْشَى عَلَيْكُمُ الدُّنْياَ أَنْ تَنَافَسُوهَا (رواه البخاري 2/242)

Sesungguhnya aku adalah pendahulubagi kalian, dan aku adalah saksi atas kalian, dan sesungguhnya tempat janji (pertemuan) kalian (denganku) adalah telagaku, dan sungguh aku sedang melihatnya dari tempatku ini, dan sungguh aku tidak khawatir kalian akan (kembali) musyrik lagi, tetapi aku mengkhawatirkan harta dunia atas kalian, (yaitu) kalian akan saling bersaing (memperebutkannya).” (HR. al-Bukhari 2/242).

Dan para mushlih (pembenah/reformis) terdahulu dari kalangan para shahabat dan salaf shalih telah berjalan diatas metode yang lurus ini.Mereka takut dengan terhamparnya harta dunia dan mereka menangis saat melihat hal itu, danmerasa sangat mengjhawatirkan akibat yang timbul setelahnya, yakni munculnya rasa saling iri, saling benci, saling dendam, saling bersaing dan (timbulnya) fitnah.

Dan Umar bin al-Khatthab radhiyallahu‘anhu benar-benar menangis saat melihat harta rampasan (yang melimpah) dariperang al-Qadisiyyah.Melihat hal itu, Abdur Rahman bin Aufradhiyallahu ‘anhu berkata kepada Umar:

ياَ أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ هَذَا يَوْمُ فَرَحٍ وَسُرُورٍ، فَقَالَ: أَجَلْ، وَلَكِنْ لَمْ يُؤْتَ هَذَا قَوْمٌ قَطُّ إِلاَّ أَوْرَثَهُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ (أخرجه البيهقي 2/244)

Wahai Amirul Mukminin, ini adalah hari gembira dan bahagia.Umar menjawab: Benar, tetapi tak ada satu kaum pun yang diberi hal ini kecuali mengakibatkan permusuhan dan kebencian.(HR. al-Baihaqi 2/244).

Yakni bahwa melimpahnya harta dunia adalah faktor pemicu terkuat timbulnya permusuhan dan kebencian di antara manusia. Karena orang-orang yang berjiwa kerdil(selalu) menginginkan apa yang ada di tangan orang lain.

Maka,dakwah serta usaha keras para shahabat dan salaf shalih tiada lain hanyalah untuk menggapai ridha Allah ta’ala dan kebaikan akhirat. Akal, pikiran dan segala gerakan mereka kosong dari (niat) bekerja hanya sekedar untuk (hal-hal) duniawi saja, serta(kosong juga) dari rasa suka kedudukan (haus kekuasaan) dan usaha membentuk negara atau pemerintahan.Hal-hal yang mereka lakukan murni semata-mata untuk menggapai ridha Allah subhanahu wata’ala.

Ketika mereka telah benar-benar melakukan segala sesuatu hanya untuk menggapai ridha-Nya dan bersungguh-sungguhpatuh kepada-Nya, maka Allah ta’ala mewujudkan keridhaan-Nya kepada mereka,yaitu dengan menundukkan dan menaklukkan dunia untuk mereka, menjadikan kedaulatan mutlak untuk mereka (atas seluruh bangsa di muka bumi), serta hukum yang berlaku adalah hukum mereka. Semua hal ini adalah hasil alami dari apa yang telah mereka persembahkan (kepada Allah ta’ala),berupa perjuangan, usaha dan iman.Allah ta’ala berfirman:

y‰tãur ª!$# tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä óOä3ZÏB (#qè=ÏJtãur ÏM»ysÎ=»¢Á9$# óOßg¨ZxÿÎ=øÜtGó¡uŠs9 ’Îû ÇÚö‘F{$# $yJŸ2 y#n=÷‚tGó™$# šúïÏ%©!$# `ÏB öNÎgÎ=ö6s% £`uZÅj3uKã‹s9ur öNçlm; ãNåks]ƒÏŠ ”Ï%©!$# 4Ó|Ós?ö‘$# öNçlm; Nåk¨]s9Ïd‰t7ãŠs9ur .`ÏiB ω÷èt/ öNÎgÏùöqyz $YZøBr& 4 ÓÍ_tRr߉ç6÷ètƒ Ÿw šcqä.Ύô³ç„ ’Î1 $\«ø‹x© ( النور : 55 )

Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kalian dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku…” (QS. an-Nur: 55 ).

Dan janji untuk dijadikan berkuasa ini dijamin dan diwujudkan Allah subhanahu wata’ala dengan kompensasi berupa iman dan amal yang sempurna. Karena itu, jika seorang muslim berusaha mewujudkan apa yang dituntut darinya dan apa yang dibebankan kepadanya, maka dia pasti sampai pada hakekat/kenyataan yang telah dijanjikan oleh Allahta’ala, yaitu berkuasa di muka bumi. Adapun orang yang hanya berusaha meraih hasil akhir tetapi meninggalkan atau meremehkan terhadap faktor (perangkat, sebab-sebab) yang digunakan untuk menuju hasil akhir tadi, maka dia sama saja dengan orang yang mengharapkan lulus namun tanpa disertaikesungguhan dan belajar.

Sebenarnya, bisa saja Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menegakkan bendera (khusus) bagi bangsa Arab,yang menyatukan Quraisy dan suku-suku Arab lainnya, serta membentuk kerajaan Arab yang kuat dan bersatu, dan beliau menjadi pemimpinnya untuk membela nasionalisme Arab serta mematahkan nasionalisme Persia dan Romawi, hingga bendera Arab berkibar gagah di muka bumi mulai dari timur sampai barat, dan kedigdayaan bangsa Arab menjadi abadi.Dan tentu saja andai beliau mau melakukan hal ini, niscaya semua orang yang menentang, melawan dan menghalangi jalan dakwah beliauakan bergegas menerima pemerintahannya dan bergabung di bawah bendera nasionalisme beliau.

Kenapa hal itu tidak mungkin, mengingat beliau adalah ­al-amin(orang yang sangat terpercaya) yang jujur dan selalu menepati janji, sosok yang dijadikan penengah saat terjadi peristiwa terbesar dalam sejarah kehidupan bangsa Arab di kota Makkah, yaitu saat proses peletakan Hajar Aswad di tempatnya semula di Ka’bah (usai Ka’bah direnovasi). Tak hanya itu saja, bahkanmereka (Quraisy)sungguh telahbeberapa kali menawarkan negosiasi kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan menyodorkan kehadapanbeliau berbagai harapan luas nan tinggi yang teramat diidamkan oleh (setiap) pria termulia dan terdidik dari suku tersebut. Yaitu saat mereka berkata kepada beliau:

إِنْ كُنْتَ تُرِيدُ بِماَ جِئْتَ بِهِ مِنْ هَذَا اْلأَمْرِ مَالاً جَمَعْناَهُ لَكَ مِنْ أَمْواَلِناَ حَتَّى تَكُونَ أَكْثَرَناَ مَالاً، وَإِنْ كُنْتَ تُرِيدُ بِهِ شَرَفاً سَوَّدْناَكَ عَلَيْناَ حَتَّى لاَ نَقْطَعَ أَمْراً دُونَكَ، وَإِنْ كُنْتَ تُرِيدُ بِهِ مُلْكاً مَلَّكْناَكَ عَلَيْناَ

Jika yang kau inginkan dengan hal (risalah) yang kau bawa ini adalah harta, maka kami akan mengumpulkannya untuk kamu sehingga kamu menjadi yang paling kaya di antara kami.Dan jika yang kau inginkan dengannya adalah kemuliaan, maka kami akan menjadikanmu tuan kami sehingga kami tak akan pernah memutuskan sesuatu tanpamu.Dan jika yang kau inginkan dengannya adalah agar menjadi raja, maka kami akan mengangkatmu menjadi raja kami.”

Dan mereka berulang-ulang menawarkan kepada beliau kedudukan dan harta.Maka respon beliau (terhadap semua tawaran itu) adalah beliau memaklumatkan dengan tegas dan jelas:

ماَ جِئْتُ بِمَا جِئْتُكُمْ بِهِ أَطْلُبُ أَمْوَالَكُمْ وَلاَ الشَّرَفَ فِيكُمْ وَلاَ الْمُلْكَ عَلَيْكُمْ، وَلَكِنَّ اللهَ بَعَثَنِي رَسُولاً وَأَنْزَلَ عَلَيَّ كِتاَباًوَأَمَرَنِي أَنْ أَكُونَ بَشِيرًا وَنَذِيرًا، فَبَلَّغْتُكُمْ رِسَالاَتِ رَبِّي وَنَصَحْتُ لَكُمْ، فَإِنْ تَقْبَلُوا عَنِّي مَا جِئْتُكُمْ بِهِ فَهُوَ حَظُّكُمْ فِي الدُّنْياَ وَاْلآخِرَةِ، وَإِنْ تَرُدُّوهُ عَلَيَّ أَصْبِرْ لِأَمْرِ اللهِ حَتَّى يَحْكُمَ اللهُ بَيْنِي وَبَيْنَكُمْ (سيرة ابن هشام صفحة 114)

Aku tidak datang dengan apa yang aku bawa datang kepada kalian ini untuk mencari harta kalian, juga tidak untuk mencari kemuliaan di antara kalian, juga tidak untuk menjadi Raja atas kalian; tetapi Allah mengutusku sebagai Rasul, dan Dia menurunkan kitab kepadaku dan memberiku perintah agar aku menjadi pemberi kabar gembira sekaligus pemberi peringatan, maka aku sampaikan kepada kalian risalah-risalah Tuhanku dan aku memberi nasehat pada kalian.Jika kalian menerima apa yang aku bawa datang kepada kalian ini, maka itu adalah keberuntungan kalian di dunia dan akhirat. Dan jika kalian menolaknya, maka aku tetap terus bersabar (gigih menyampaikan) terhadap ketentuan Allah (ini), sehingga Allah (sendiri) yang memutuskan di antara kita.(Sirah Ibnu Hisyam: 114)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sang pengemban dakwah, benar-benar telah memberitahukan hakekat dakwahnya dalam penjelasan yang detail,serta merincinya agar terhindar dari setiap tujuan dan targettidak jelas yang terkadang diam-diam menyusup dalam hati para pengemban suatu dakwah/ajakan yang masih baru serta para penggerak revolusi dan reformasi.Padahal (keikhlasan) ini adalah salah satu rahasia kesuksesan dakwah. Maka, setiap pembenah atau pembaharu di medan dakwahyang menjauhkan dirinya dari metode(keikhlasan) ini, justru menjauhkannya dari kesuksesan, (menjadi sulit) diterima (masyarakat) dan (tidak membawa) kebahagiaan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam benar-benar menjadi tinggi dengan dakwah beliau, dan dakwah beliau (juga)meninggi dan terus meninggi hingga menjadi jernih yangsinar serta ruhaniyyah beliaumemancar atas dakwah ini.Lalu dakwah beliaumenjadisungguh-sungguh, sempurna, meninggi, dan mulia, hingga Allah ta’alamenaklukkan musuh-musuh dakwah dan para penghalang besarnya,dan memaksa mereka untuk bernegosiasi dengan sang pengemban dakwah shallallahu ‘alaihi wasallam.

About shofwah