Cinderahati dari Sarasehan Para Kyai Se-Jawa Barat di Cirebon

Oleh | Umar Faruq
Ketua Pengurus Pusat Hawariy Ash Shofwah

 

[Jumat, 23 September 2016] KEGELISAHAN para Kyai, Habaib, Ajengan, Gus, Asatidz, dan tokoh-tokoh Ahlussunnah Waljamaah akan munculnya kelompok-kelompok ekstrim yang mengancam eksistensi Islam Ahlussunnah Waljamaah mulai terasa merata hampir di semua daerah di belahan dunia ini. Tak terkecuali di Indonesia.

Tak ayal, gelombang protes dan penolakan terhadap laju perkembangan gerakan Islam radikal Salafi Wahabi (selanjutnya disebut Sawahi) sebagai gerakan yang mengancam eksistensi Ahlussunnah Waljamaah terus bermunculan di beberapa tempat dengan cara yang beraneka pula.

Di Malang, usai shalat Jum’at (23 September 2016) para aktifis Ahlussunnah Waljamaah yang terdiri dari para santri, kiai, habaib, dan Asatidz se Malang Raya mendatangi kantor Balaikota Malang di kawasan bundaran Tugu. Mereka menuntut kepada tokoh Sawahi yaitu Ust Agus Hasan Bashori agar meminta maaf kepada umat Islam. Pasalnya, Ustadz Agus yang beraliran Sawahi dan juga pengasuh Ma’had Al Umm ini telah melemparkan tuduhan negatif terhadap gelaran Muktamar Umat Islam di Chechnya beberapa waktu yang lalu. Sontak, hal ini memunculkan kegerahan umat Islam Ahlussunnah Waljamaah.

Lain ladang lain belalang. Di Cirebon, pada saat yang bersamaan dengan aksi di Malang, ratusan tokoh umat Islam yang terdiri dari para Kiai, Habaib, para Ayib, Asatidz, Ajengan, dan santri berkumpul di auditorium Verse Hotel Cirebon usai shalat Jum’at juga. Mereka berkumpul dalam seremoni “Sarasehan Kyai; Menjaga Aqidah Ummat dalam Bingkai Ahlussunnah Waljamaah”.

ustumar-1Acara yang diselenggarakan oleh Hawariy Ash Shofwah Jawa Barat ini menjadi semacam ajang curhat para tokoh Ahlussunnah Waljamaah se wilayah Jawa Barat. Masing-masing Kiai, Habaib, Asatidz dan Ajengan menyampaikan kegelisahan mereka akan kemunculan aliran Sawahi dan sejenisnya yang mengancam eksistensi Ahlussunnah Waljamaah di beberapa daerah.

Gerakan Salafi Wahabi atau Sawahi yang bergaya ekstrim kian lama kian mengancam iklim keberagamaan di negeri ini. Bahkan juga mengancam stabilitas dan keutuhan NKRI. Ajaran yang disebar oleh kelompok Sawahi ini tidak hanya berseberangan dengan mainstream keberagamaan yang sudah mapan, tetapi juga cenderung menyalahkan. Kelompok ini menjadi problem serius karena menggunakan metode Takfir, gampang mengkafirkan orang yang tidak sejalan dengan Sawahi; Tabdi’; membid’ahkan orang lain; Tadhlil, menuduh sesat orang lain; dan Tahthi’, menyalahkan orang lain.

Klaim Takfir, Tabdi’, Tadhlil, dan Tahthi’ mereka arahkan tidak hanya kepada umat yang masih awam, tetapi juga kepada para tokoh agama, para kiai, para habaib, dan para Asatidz. Wajar saja jika ulah kelompok Sawahi ini kemudian memicu gesekan negatif di masyarakat. Sehingga umat Islam yang sudah kuat dengan ajaran Ahlussunnah Waljamaah bereaksi untuk melakukan resistensi terhadap ajaran Sawahi.

Dari forum Sarasehan Kyai di Cirebon ini lahir beberapa rekomendasi penting untuk menguatkan Islam Ahlussunnah Waljamaah. Beberapa point rekomendasi itu antara lain:

1. Silaturahim. Para tokoh Ahlussunnah Waljamaah, para Kiai, Habaib, Asatidz perlu meningkatkan intensitas Silaturahim diantara mereka. Hal ini untuk menguatkan dan mensinergikan jaringan Ahlussunnah Waljamaah.

2. Improvisasi pendidikan di lembaga-lembaga Ahlussunnah Waljamaah. Karena umat saat ini memiliki kecenderungan untuk memilih lembaga pendidikan yang bonafid dan berkualitas. Sedangkan lembaga pendidikan milik Sawahi selalu menawarkan sistem pendidikan yang terkesan berkualitas dan modern. Baik dari segi fisik bangunan maupun kurikulumnya. Hal ini perlu dijadikan evaluasi untuk meningkatkan kualitas pendidikan di internal Ahlussunnah Waljamaah.

3. Identifikasi potensi dan SDM Aswaja. Mengingat banyak kader Aswaja yang berpotensi untuk menjadi motor penggerak bagi penguatan Aswaja di berbagai sektor, namun mereka lepas dari kontrol para Kiai, Asatidz, dan tokoh Aswaja. Sehingga mereka merasa tak perduli dengan kondisi Aswaja yang mulai terancam.

4. Menguatkan informasi keAswajaan di media sosial. Perlu dibuat pelatihan khusus untuk tim Cyber Army, yaitu pasukan khusus di dunia maya yang bertugas untuk menyebar informasi tentang Aswaja.

5. Penguatan ekonomi. Mengingat datangnya kelompok-kelompok yang mengancam eksistensi Aswaja ini seringkali menggunakan senjata finansial, maka penguatan ekonomi di internal umat menjadi kebutuhan yang sangat mendesak.

Poin-poin rekomendasi ini disimpulkan dari hasil pemaparan para Kiai yang hadir, dan lalu dibacakan oleh seorang doktor muda dari kampus IAIN Cirebon.

Yang lebih menarik lagi dari sarasehan para kiai se Jawa Barat ini, yaitu semua peserta diberi cinderahati yang sangat berharga. Cinderahati itu berupa kitab yang sangat langka yang isinya penguatan terhadap Aswaja. Kitab “Baroatul Asy’ariyyin min ‘Aqoidil Mukholifin” karya Syaikh Abi Hamid bin Marzuq Rohimahullahu ta’ala.

Konon kitab ini sempat menjadi kitab “paling sesat” versi Sawahi. Bahkan penguasa Wahabi saat itu sempat membuat sayembara, barangsiapa yang bisa mendatangkan penulis kitab ini, hidup atau mati, maka akan diberi hadiah emas sesuai dengan berat tubuh penulis kitab ini.

“Tetapi Alhamdulillah. Dengan ma’unah dari Allah, akhirnya kitab ini bisa diselamatkan dan bisa sampai kepada kita umat Islam Aswaja,” tutur Habib Miqdad Baharun, penggagas sarasehan ini.

Tentunya, para peserta merasa senang dengan acara ini. Disamping bisa bersilaturahim, juga menambah ilmu dan wawasan dalam rangka penguatan akidah Aswaja.

Barakallah untuk Ashab Hawariy Jawa Barat yang telah sukses menyelenggarakan perhelatan para kiai ini. Umat Islam Aswaja menunggu gebrakan selanjutnya.[]

About shofwah