Mempersiapkan Dakwah dan Menyediakan Perangkat-perangkatnya

Seri: Telada Terbaik dalam Metode Dakwah (Terjemah dari Kitab Al-Qudwah Al-Hasanah)

Dalam permulaan dakwah, harus sempurna terlebih dahulu persiapan perangkat-perangkat dakwah,mengumpulkanberbagai (faktor)kekuatan, dan memperhatikan hal-hal yang dibutuhkan oleh keadaan dan kenyataan (yang dihadapi).

Sungguh dakwah Islamiyyah telah melewati beberapa fase yang berbeda sejak diutusnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallamhingga beliau wafat. Dakwah secara diam-diamberlangsung selama tiga tahun.Lalu berpindah pada fase dakwah secara terang-terangan dengan lisan tanpa mengangkat senjata sampai pada masa hijrah.Lalu beranjak pada fase bertempur (untuk bertahan dan membela diri/defensif) menghadapi serangan musuh danorang-orang yang memulai perang terlebih dulu sampai pada masa perjanjian damai di Hudaibiyyah.Lalu berpindah pada fase (ofensif) memerangi siapapun yang berdiri menghalangijalan dakwah.

Dan diantara yang termasuk dalam persiapan perangkat dakwah adalah melakukan korespondensi/surat menyurat dengan para Raja dan para pemimpin kaliber dunia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajak mereka untuk masuk Islam serta meninggalkan ajaran dan agama yang bathil yang mereka peluk. Maka (untuk kepentingan ini)beliau memilih sosok-sosok shahabat yang mumpuni untuk mengemban tugas ini dengan syarat masing-masing dari mereka harus benar-benar menguasai bahasa bangsa yang hendak dituju.

Semua ini menunjukkan bahwa sudah seyogyanya bagi kaum muslimin untuk mempersiapkan berbagai wasilah (perantara) dan perangkat dalam rangka dakwah Islamiyyah serta menempuh dakwah dengan rencana yang matang, tak hanya sekedar ide cepat dan planning kilat yang tergesa-gesa dan tanpa perhitungan.

Dan diantara salah satu usaha mempersiapkan perangkat dakwah adalah tarbiyah amaliyyah(pendidikan dan praktek lapangan) untuk menghasilkan seorang da’i yang mempunyai ilmu yang mumpuni sekaligus penuh dengan rasa ghairah (kecemburuan/semangat yang membara). Karena ilmu saja dengan tanpa adanya ghairah maka akan menjadi sesuatu yang membeku, tak ada greget dan tak ada kepekaan. Begitu pula ghairah saja dengan tanpa adanya ilmu, maka tidak patut untuk  posisi kepemimpinan dan memberi bimbingan.

Dan ini adalah hal yang kita jangan sampai terjatuh di dalamnya. Jangan sampai kita terjebak menjadi orang yang mumpuni ilmunya tapi tidak mempunyai ghairah serta kepedulian pada hal-hal yang diharamkan Allah ta’ala. Atau menjadi orang yang mempunyai ghairah dan semangat yang besar tetapi tidak memiliki ilmu yang mendalam sehingga (berpotensi untuk) menyesatkan kaum muslimin.

About shofwah