Sepercik Kisah ketika Ta’ziyah Alm. KH. Misbah Sadat, Pengasuh Ribath Darut Tauhid Surabaya

“Saya (istri Alm. Kyai Misbah) juga antara percaya dan tidak, dan juga menyesal,” beliau menghela nafas panjang, menguatkan dirinya, dan seakan bilang; jangan sampai air mata ini terjatuh.

“Seakan tidak ada apa-apa, tapi memang kemarin tidak seperti biasa. Waktu hendak khutbah jum’at, biasanya saya yang menyiapkan semua, baju dan sebagainya, dan ketika saya lupa menyiapkan, beliau selalu mencari saya untuk menyiapkan. Kemarin berbeda, beliau menyiapkan semua sendiri, saya terlupa untuk itu. Dan tiba-tiba beliau sudah terlihat sangat rapi.” Beliau berhenti sejenak.

“Dan ketika hendak berangkat, saya bertanya kepada beliau,  “Buya berangkat dengan siapa?”

“Kalau nggak sama Agus ya Faqih (salah satu santri beliau)” jawab Buya.

“Loh merekakan ndak ada Buya?”.

“Ya sudah, berarti sama sampean aja mi.”

“Aduh Buya, ummi capek, pengen istirahat.”

Memang pada waktu itu saya sibuk sekali dirumah, entah kenapa saya kok ingin bersih-bersih seluruh rumah ini.

Kemudian Buya mengajak anak perempuan saya yang dirumah;

“Ayo nemenin Buya Jum’atan.”

“Dimana Buya?”

“Di Masjid Nuruz Zaman kampus B UNAIR”

“Nggak mau buya, disana nggak ada perempuannya,”

“Ya sudah, Buya nggak tau lo ya, kalo buya nanti meninggal.”

“Aah.. Buya ini ngomong apa sih. Ada-ada aja.”  Semua menganggap bahwa itu hanya candaan. Dan kemudian Buya mengajak cucunya yang masih kecil, namanya Ali;

“Nak, ayo ikut Buya jum’atan, nanti tak belikan ice krim”

“Horeee! Ayo buya.. ayo! Kita berangkat,” kata cucunya kegirangan.

Dan akhirnya mereka berangkat. Nah, biasanya buya kalau punya janji belikan ice krim, pas pulang itu langsung mampir ke super market atau apalah, dan sekalian buya yang bayarin langsung. Kemarin berbeda. Sebelum masuk masjid Buya sudah memberikan uang ice krim ke Ali.  “Ini uang buat beli ice krim, bawaen,” kata Buya. Maa Syaa Alloh, beliau mungkin takut tidak menepati janji.

Saya banyak terdiam, menyimak kisah dari ummi. Sesekali menanggapi sambil menganggukkan kepala.

“Maa syaa Alloh mi, beliau khusnul khotimah. Khutbah terakhir beliau begitu menyentuh. Indah sekali, kehidupan Buya diakhiri dengan khutbahnya dan sujud pada hari mulia, jum’at. Dalam khutbah beliau, beliau sanjang sempat periksa ten dokter, pripun niku mi?” tanyaku

“Iya, paginya memang sama saya periksa ke dokter. Ketika di tanya dokter, “Bapak ada keluhan apa?”

“Nggak ada sakit dok, cuman saya kok ngerasa lemes aja, dan beberapa hari saya nggak ada nafsu makan, males makan,” jawab Buya

“Memang Buya punya penyakit serangan jantung, dan dulu sempat kambuh sampai ndak bisa bawa sepeda atau bawa barang-barang berat, karena sedikit dikit sudah ngos-ngosan.

Katanya dokter, penyakit jantung itu memang kambuhnya tiba-tiba saja. Tidak ada tanda apa-apa. Tapi sudah lama sekali buya ndak pernah kambuh, malahan seperti sudah ndak punya sakit jantung lagi.”

“Sepulang dari dokter, Buya tiba-tiba berhenti di pesarehan keluarga Buya. Kemudian berkata kepada  saya, “Nanti di sini (sambil menunjuk tempat) jangan dibolehin untuk mengubur siapapun, ini dibuat jalan saja.”

Saya ya tidak begitu merespon, pikir saya, ini bukan urusan saya, kan biasanya yang ngatur orang laki-laki, tidak ada hubungannya dengan saya.”

“Saya juga sebenarnya kasian sama Alawy (Salah satu putra beliau yang sedang belajar di Ma’had Nurul Haromain Pujon),” beliau lanjutkan ceritanya.

“Alawy kemarin sempat pulang karena dapat tugas dari pondok, sebenarnya hanya sepekan waktu untuk pulang, tapi karena Alloh memberi Alawy sakit, dia lebih dari sepekan dirumah,  _Maasya Alloh_, itulah cara Alloh sehingga Alawy bisa berlama bersama Buya dan Buya sempat banyak cerita tentang perjumpaan beliau dengan Rasulullah dan Abuya Sayyid Muhammad Al-Maliki kepada Alawy.

Bahkan waktu itu, Alawy juga sempat mengantarkan Buya ke pelosok Kertosono, Mojokerto. Mencari anak-anak Yatim dan dhafa’ plosok, Karena sudah kebiasaan Buya pada tiap bulannya keliling ke pelosok mencari anak yatim dan dhafa untuk diberi santunan, sambil berdakwah mengajak belajar di Ribath Darut Tauhid.

“Nah saat itu Alawy dan seluruh santri Ma’had Nurul Haromain sedang ABS (KKN) di Blora Jateng. Pengurus pondok memang sengaja tidak memberitahu kalau Buya sudah meninggal. Hanya dibilang, kalo sedang sakit, dan Alawy disuruh pulang.

“Tumben Buya nyuruh pulang, memangnya Buya sakit apa, kok tiba-tiba nyuruh pulang. Padahal selama ini Buya sakit apapun nggak pernah nyuruh pulang, bahkan nggak ngebolehin pulang”

“Sudahlah, pengurus memutuskan kamu harus pulang malam ini juga, atas perintah dari orang tuamu” kata pengurusnya

Malam itu juga Alawy perjalanan dariBlora ke Surabaya. Kata Alawy, ketika dia masih naik ojek menuju rumahnya, seakan Buya berbisik padanya “Kamu sudah saya didik sedemikian rupa, sudah tau fikroh Buya, dan kamu sudah harus siap ditinggal Buya!”

Dan tepat di depan gerbang rumah, suara Buya menghilang. Sesampai dirumah, Alawy bingung, kenapa rumahnya ramai sekali, dan ada palang merah pula. Tepat di depan pintu dia melihat saya, tercengang. Kemudian dia lihat jenazah Buya di ruang tamu, dia lama menatap saya dari depan pintu, sambil tetap berdiri disana. Dan akhirnya dia mendatangi saya, kemudian jenazah Buya “Buya, katanya perjuangan masih lama, kemarin baru saja cerita ditemui Rasulullah secara langsung diberi penguatan dan dukungan, dan juga seringnya berjumpa dengan Abuya Sayyid Muhammad Al-Maliki. Lah, kok sekarang saya ditinggal? Terus saya nanti harus gimana?”

Tepat di depan jenazah Buya juga, Alawy membaca foto copy-an surat yang ditulis oleh buya untuk Abuya Sayyid Ahmad bin Muhammad Al-Maliki pada beberapa pekan lalu. Air matanya mengalir deras.” Ummi kembali menghela nafas panjang, hanya matanya yang berkaca.

*Buya: panggilan keluarga pada KH. Misbah

Sumber kisah: Ummi, Istri KH. Misbah

 

توفني مسلما والحقني بالصالحين. امين يارب..

About shofwah