Perbedaan Antara ‘Kedudukan Khalik Dan Kedudukan Makhluk (4-empat)

mafahim

oleh | Abuya Sayyid Muhammad ibn Alawi Al-Maliki Al-Hasani
diterjemahkan oleh | Ust. Kamal Muhlis

الحلقة التاسعة عشرة من كتاب مفاهيم يجب أن تصحح

تأليف إمام أهلالسنة والجماعة قرن 21 أبوي السيد محمد علوي المالكي الحسني

مقام الخالق ومقام المخلوق4

فليس في تعظيمه صلى الله عليه وسلم بغير صفات الربوبية شيء من الكفر والإشراك ، بل ذلك من أعظم الطاعات والقربات ، وهكذا كل من عظمهم الله تعالى كالأنبياء والمرسلين صلوات الله وسلامه عليهم أجمعين ، وكالملائكة   والصديقين والشهداء والصالحين ، قال الله تعالى : } ذَلِكَ وَمَن يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقْوَى الْقُلُوبِ{ ، وقال تعالى : } ذَلِكَ وَمَن يُعَظِّمْ حُرُمَاتِ اللَّهِ فَهُوَ خَيْرٌ لَّهُ عِندَ رَبِّهِ { .

ومن ذلك الكعبة المعظمة والحجر الأسود ومقام إبراهيم عليه السلام ، فإنها أحجار وأمرنا الله تعالى بتعظيمها بالطواف بالبيت ومس الركن اليماني وتقبيل الحجر الأسود وبالصلاة خلف المقام ، وبالوقوف للدعاء عند المستجار وباب الكعبة  والملتزم ، ونحن في ذلك كله لم نعبد إلا الله تعالى ، ولم نعتقد تأثيراً لغيره ولا نفعاً   ولا ضراً فلا يثبت شيء من ذلك لأحد سوى الله تعالى .

Perbedaan Antara ‘Kedudukan Khalik Dan Kedudukan Makhluk4

Mengakui Nabi Muhammad shallallahu ‘alahi wasallam dengan segala sifatnya yang bagus dan istimewa, selain dengan sifat-sifat ketuhanan, sama sekali tidak mengandung kekufuran atau kemusyrikan. Bahkan, yang demikian itu justru merupakan ketaatan dan pengorbanan yang sangat tinggi dari seorang muslim. Demikian pula halnya mengagungkan orang-orang yang diagungkan oleh Allah subhana wata’ala, seperti para Nabi dan Rasul ‘alaihi salam. juga terhadap para Malikat, Shiddiqin, yang kuat imannya dan jujur”, Syuhada’, yang mati syahid, dan orang-orang saleh (lainnya). Perhatikanlah firman Allah subhana wata’ala berikut “Demikianlah (perintahg Allah). Dan barang siapa yang mengagungkan apa-apa yang terhormat disisi Allah, maka itu adalah lebih baik baginya disisi tuhannya”. (Q.S. Al Hajj [22] : 30). Juga dalam firmannya yang lain : “Demikianlah (perintah Allah), dan barang siapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati“. (Q.S. Al Hajj [22] : 32). Di antara syi’at-syi’ar – cirri-ciri keagungan Allah – itu adalah, Ka’bah yang diagungkan , Hajar Aswad, dan Makam Ibrahim a.s itu semua adalah batu-batu yang kita diberintahkan oleh Allah subhana wata’ala untuk mengagungkannya, dengan cara mengelilingi Ka’bah (Thawaf) mengusap Rukun Yamani dan mencium Hajar Aswad serta melakukan salat dibelakang Makam Nabi Ibrahim ‘alaihi salam. kita juga diperintahkan berhenti untuk berdoa ditempat-tempat mustajab, seperti di pinti Ka’bah dan di Multazam. Ketika melakukan itu semua, kita tidak (berniat) menyembah selain Allah. Bahkan, kita juga tidak berkeyakinan akan adanya pengaruh selain kekuasaan Allah subhana wata’ala, baik ketika memberi manfa’at maupun ketika menimpahkan Madaharat atau Bahaya. Tidak ada sedikitpun dari itu semua terjadi karena pengatuh dan kekuasaan seseorang selain Allah subhana wata’ala. Bersambung.

About shofwah