Perbedaan Antara ‘Kedudukan Khalik Dan Kedudukan Makhluk (1-satu)

mafahim

oleh | Abuya Sayyid Muhammad ibn Alawi Al-Maliki Al-Hasani
diterjemahkan oleh | Ust. Kamal Muhlis

الحلقة السادسة عشرة من كتاب مفاهيم يجب أن تصحح

تأليف إمام أهلالسنة والجماعة قرن 21 أبوي السيد محمد علوي المالكي الحسني

مقام الخالق ومقام المخلوق 1

إن الفرق بين مقام الخالق والمخلوق هو الحد الفاصل بين الكفر والإيمان ، ونعتقد أن من خلط بين المقامين فقد كفر والعياذ بالله .

ولكل مقام حقوقه الخاصة ، ولكن هناك أموراً ترد في هذا الباب وخصوصاً فيما يتعلق بالنبي صلى الله عليه وسلم وخصائصه التي تميزه عن غيره من البشر وترفعه عليهم هذه الأمور قد تشتبه على بعض الناس لقصر عقولهم وضعف تفكيرهم وضيق نظرهم وسوء فهمهم ، فيبادرون إلى الحكم بالكفر على أصحابها وإخراجهم عن دائرة الإسلام ظناً منهم أن في ذلك تخليطاً بين مقام الخالق والمخلوق ، ورفعاً لمقام النبي صلى الله عليه وسلم إلى مقام الألوهيـة ، وإننا نبرأ إلى الله سبحانه وتعالى من ذلك .

Perbedaan Antara ‘Kedudukan Khalik Dan Kedudukan Makhluk  (1-satu)

Perbedaan antara “kedudukan” (maqam) Khalik dan Makhluk merupakan batas pemisah antara keimanan dan kekufuran. Harus diyakini bahwa siapapun yang menyamakan kedua maqam tersebut, ia menjadi kafir. Semoga Allah melindungi kita dari karakter seperti itu.

Setiap maqam tersebut memiliki hak-hak yang khusus. Dalam bab ini ada beberapa masalah yang diungkapkan, berkaitan erat dengan pribadi Nabi Muhammad shallallahu ‘alahi wasallam, khususnya berkenaan dengan segala kelebihan dan keistimewaan Nabi yang dengan karakteristik itu tampak jelas perbedaan junjungan kita itu dengan manusia lainnya dan terbukti beliau jauh lebih mulia dibandingkan manusia – bahkan makhluk apapun – didunia ini. Bagi mereka yang hanya mempunyai kemampuan intelektualitas yang pas-pasan dan pemikiran yang lemah serta pandangan yang sempit, berbagai hal dan masalah tersebut tampaknya akan melahirkan keraguan dalam memahami dan menyikapinya. Tidak sedikit dari mereka yang memahami kelebihan dan keistimewaan Nabi Muhammad shallallahu ‘alahi wasallam dengan pemahaman yang salah. Mereka – yang mempunya karakteristik buruk itu – kemudian menvonis bahwa orang-orang, termasuk para Nabi, yang mempunyai keistimewaan dan kelebihan itu sebagai orang-orang kafir yang keluar dari wilayah keislaman. Karena, menurut mereka, mereka yang mempunyai kemampuan istimewa atau luar biasa itu telah melakukan berbagai hal yang menjadi hak otoriter Allah. Dalam pandangan mereka, makhlik yang mempunyai kemampuan istimewa – biasanya berhubungan dengan hal-hal agak gaib – itu telah berdusta dan menyama ratakan antara maqam Khalik dan Makhluk. Dalam pemahan mereka, mengakui keistimewaan Nabi, berarti mengangkat derajat Nabi kederajat Tuhan. Padahal, kita terbebas diri dari keinginan dan niat untuk beranggapan seperti itu.

 

About shofwah