Madza fi Sya’ban: Sya’ban, Bulan Shalawat

 

sya'ban

Pada artikel sebelumnya, pembahasan penentuan umur dan puasa di bulan Sya’ban. Kali ini, pembahasan seputar bulan Sya’ban adalah bulan shalawat. Selamat mengikuti.

Di antara keistimewaan bukan Sya’ban adalah ia menjadi bulan di mana diturunkan ayat Shalawat dan Salam kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Ayat itu adalah firman Allah:

          إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَاالَّذِيْنَ آمَنُـوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”QS al Ahzab:56.

Ibnus Shoef al Yamani menyebutkan bahwa bulan Sya’ban disebut Bulan Shalawat atas Nabi shallallahu alaihi wasallam karena ayat QS al Ahzab 56 turun pada bulan ini[1]. Imam Syihabuddin al Qosthalani mengatakan dari sebagian ulama bahwa bulan Sya’ban adalah Bulan Shalawat atas Nabi shallallahu alaihi wasallam karena ayat Shalawat (QS al Ahzab 56) turun pada bulan ini[2]. Al Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menukil dari Abu Dzarr al Harawi bahwa perintah bershalawat atas Nabi shallallahu alaihi wasallam (maksudnya firman Allah dalam QS al Ahzab 56) terjadi pada tahun kedua hijriyyah. Ada pula yang mengatakan dalam peristiwa Isra’.

Hakikat Shalawat atas Nabi shallallahu alaihi wasallam

Allah berfirman:

          إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَاالَّذِيْنَ آمَنُـوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”QS al Ahzab:56

Allah memerintahkan seluruh kaum beriman setelah memanggil mereka dengan sebelumnya menyebutkan bahwa Allah dan malaikatNya melakukan hal tersebut. Maksudnya Dia Memerintahkan hal tersebut – bukan karena Nabi shallallahu alaihi wasallam butuh pada hal itu, tetapi karena tujuan memuliakan kalian sebab keimanan kalian kepadanya – dengan perintah yang menjadikan kalian mencocoki  dan sejalan dengan Raja Diraja Maha Mulia ta’alaa,  para orang teristimewa dari para hambaNya yang shaleh yang dimuliakan bersama Nabi shallallahu alaihi wasallam yang menjadi jalan bagi kalian memperoleh petunjukNya yang dengan lisannya, Sang Nabi juga memberikan petunjuk segala hal yang bisa mendekatkan kalian di sisiNya.

Syekh Izzuddin bin Abdussalam rahimahullah berkata:

Shalawat atas Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bukanlah syafa’at kita untuk Beliau karena orang seperti kita tidaklah bisa memberi syafaat kepada orang seperti Beliau. Kendati begitu Allah ta’alaa Memerintahkan agar membalas jasa orang yang telah memberikan kebaikan kepada kita. Jika tidak bisa membalas jasanya maka kita berdo’a untuknya agar Allah Menggantikan kita dalam memberikan balas jasa. Ketika kita tidak mampu membalas jasa penghulu manusia terdahulu dan yang kemudian maka Tuhan semesta alam Memerintahkan agar kita bershalawat atasnya supaya shalawat itu sebagai balas jasa atas kebaikan dan anugerahnya kepada kita dan tentu saja tak ada kebaikan lebih utama daripada kebaikan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kepada kita. Beliau bersabda:

          مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاَةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا

Barang siapa bershalawat sekali atasku maka sebab itu Allah bershalawat sepuluh kali atasnya” HR Muslim.

Qadhi Iyadh berkata: [Maksudnya Allah merahmatinya dan menggandakan pahalanya sebagaimana firmanNya, Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnyaQS al An’aam:160. ] Qadhi melanjutkan: [Atau bisa jadi shalawat Allah ini sesuai dengan zhahirnya sebagai bentuk memuliakan (orang yang membaca shalawat) di kalangan para malaikat seperti dalam hadits, “Jika ia menyebutKu dalam suatu perkumpulan maka Aku menyebutnya di perkumpulan (lain)yang lebih mulia darinya”. Hanya Allah yang lebih Mengetahui]

Dari Ubayy bin Ka’ab ra ia berkata: Aku berkata: “Wahai Rasulullah, sungguh saya memperbanyak bershalawat atas engkau. Lantas berapa dari shalawatku itu yang saya jadikan untuk engkau?” Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjawab, “Terserah kamu” aku berkata: “Seperempat?” Beliau bersabda: “Terserah kamu, bila kamu menambahnya maka itu lebih baik”  aku berkata: “Separuh?” Beliau bersabda: ““Terserah kamu, bila kamu menambahnya maka itu lebih baik” aku berkata: “Saya menjadikan seluruh shalawat saya untuk engkau” Beliau bersabda:

           …إِذًا تُكْفَى هَمَّكَ وَيُغْفَرْ لَكَ ذَنْبُكَ

“…Jika begitu maka kamu dicukupi keinginanmu dan diampuni dosamu”HR Turmudzi.

Imam Nawawi berkata: Maksud ungkapan (sungguh saya memperbanyak bershalawat atas engkau. Lantas berapa dari shalawatku itu yang saya jadikan untuk engkau?) adalah: “Saya memperbanyak berdo’a maka berapa banyak saya harus bershalawat  atas engkau dalam do’a saya?”

Abu Laits As Samarkand rahimahullah berkata:

[Andai dalam bershalawat atas Nabi shallallahu alaihi wasallam tidak ada pahala sama sekali kecuali mengharapkan Syafa’at maka wajib bagi orang berakal untuk tidak melupakannya. Apalagi dalam bershalawat ada ampunan dosa – dosa, ada shalawat dari Allah],  Abu Laits melanjutkan: [Jika ingin mengetahui bahwa bershalawat atas Nabi shallallahu alaihi wasallam adalah ibadah yang paling utama maka renungkanlah firman Allah, Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”QS al Ahzab:56. Seluruh ibadah telah Allah perintahkan kepada para hambaNya. Sementara shalawat atas Nabi shallallahu alaihi wasallam maka sungguh diriNya telah bershalawat dan kemudian Memerintahkan orang beriman agar mereka bershalawat atasnya. Ini menetapkan bahwa Shalawat atas Nabi shallallahu alaihi wasallam adalah ibadah yang paling utama]

Imam Nawawi berkata: [Jika seseorang bershalawat kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam maka hendaknya menggabungkannya dengan ucapan salam (Taslim) dan tidak hanya menyebutkan salah satunya] Imam al Ghazali menceritakan: [Pernah aku menulis sebuah hadits dan sekaligus bershalawat atas Nabi shallallahu alaihi wasallam, tetapi tidak mengucapkan salam. Maka aku bermimpi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan Beliau bersabda kepadaku, “Kenapa tidak kamu sempurnakan bershalawat atasku dalam kitabmu?” maka mulai setelah itu tidak kutulis shalawat kecuali menyertakan salam]

Imam Nawawi berkata: [Disunnahkan bagi pembaca hadits atau lainnya yang semakna, jika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam disebut agar mengeraskan suara bacaan shalawat dan salam atas Beliau  dan jangan sampai mengeraskan dengan suara yang terlalu keras sehingga terkesan jelek. Di antara tokoh yang menyatakan dan menganjurkan mengeraskan suara ini adalah al Imam al A’zham al Hafizh Abu Bakar al Khathib al Baghdadi serta juga para tokoh ulama yang lain]

Abu Bayan al Ashfihani berkata:

Aku bermimpi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan bertanya kepada Beliau: “Kenapa engkau tidak memberikan manfaat kepada anak pamanmu As Syafi’i dengan sesuatu atau mengistimewakannya dengan sesuatu?” Beliau bersabda: “Ia, aku memohon kepada Tuhanku agar tidak menghisabnya” aku bertanya: “Sebab apa?” Beliau bersbda: “Sebab ia telah bershalawat kepadaku dengan shalawat yang belum pernah aku mendapat shalawat seperti itu” aku bertanya: “Apakah itu?” Beliau bersabda: “Ia (Syafii) mengucapkan:

          أَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ كُلَّمَا ذَكَرَهُ الذَّاكِرُوْنَ وَغَفَلَ عَنْ ذِكْرِهِ الْغَافِلُوْنَ

Ya Allah berikanlah shalawat kepada Muhammad selama orang – orang yang ingat menyebutnya dan selama orang – orang yang lupa lalai dari menyebutnya”

Ibnu Abdul Hakam berkata:

Dalam mimpi aku melihat Syafi’i dan bertanya: “Apakah yang dilakukan Allah kepadamu?” ia menjawab: “Dia Memberiku nikmat dan Mengampunikun dan dan aku diarak di surga layaknya pengantin diarak serta ditaburkan atasku seperti halnya ditaburkan atas pengantin” aku (Ibnu Abdil Hakam) bertanya: “Dengan apakah kamu menggapai derajat ini?” ia menjawab: “Sebab ucapanku dalam kitab Ar Risalah;

          وَصَلَّى الله عَلَى مُحَمَّدٍ عَدَدَمَا ذَكَرَهُ الذَّاكِرُوْنَ وَعَدَدَ مَا غَفَلَ عَنْ ذِكْرِهِ الْغَافِلُوْنَ

Dan semoga Allah bershalawat atas Muhammad sesuai bilangan orang pengingatan orang – orang yang ingat dan sesuai bilangan kelalaian orang – orang yang lupa mengingatnya”[3]

Bersambung.

 

Catatan kaki:

[1] Tuhfatul Ikhwan lil Imam Ahmad bin Hijazi al Fasyni hal 74

[2] Syarah Az Zarqani ala al Mawahib 7/328

[3] Dari kitab Nuzhatun Nazhirin fil Akhbar al Marwiyyah an al Anbiya’ was Shalihin ­29 – 30

About shofwah