Madza fi Sya’ban: Nama–nama Malam Nishfu Sya’ban

bulansyaban

Pembahasan artikel yang lalu adalah Malam Nishfu Sya’ban. Kali ini akan akan melanjutkan dengan Nama-nama Malam Nishfu Sya’ban.

Sebagian ulama menyebutkan banyak nama dari malam Nishfu Sya’ban – sementara banyak nama secara lazim menunjukkan kemuliaan pemilik nama – . Imam Abul Khair at Thaliqani menyebutkan nama – nama itu hingga 22 nama yang di antaranya:

  1. al Lailah al Mubarakah.

Malam yang memang penuh berkah, atau karena makna – makna yang ada di dalamnya atau karena malaikat mendekat dan bersanding dengan manusia pada malam itu.

  1. Lailatul Qismah.

Di antara namanya adalah Lailatul Qismah, malam pembagian rizki dan penentuan segala keputusan Allah berupa urusan besarNya sebagaimana diriwayatkan Atha’ bin Yasar: [Pada malam nishfu sya’ban dituliskan untuk malaikat maut nama semua orang yang akan meninggal dunia dari sya’ban (itu) sampai sya’ban berikutnya. Dan sesungguhnya seseorang selalu berbuat zhalim, berbuat fujur, menikahi para wanita dan menanam pohon – pohon sementara namanya telah tertulis dari golongan orang – orang yang hidup beralih kepada golongan orang – orang yang mati. Dan tidak ada malam selain Lailatul Qadar yang lebih utama daripada malam nishfu sya’ban]

Dalam riwayat lain yang juga bersumber dari Atha’:

[Pada malam nishfu sya’ban diberikanlah sebuah lembaran kepada malaikat maut dan dikatakan kepadanya, “Cabutlah (nyawa) orang yang ada di lembaran ini. Dan sesungguhnya seorang hamba sedang menanam pepohonan, menikahi para isteri dan membangun bangunan sementara namanya telah tertulis dalam daftar orang – orang yang meninggal dunia dan malaikat maut tidak menunnggu kecuali ia diperintah untuk mencabut nyawanya]

Dalam versi lain diriwayatkan: [Ajal – ajal dipastikan dari sya’ban sampai sya’ban berikutnya sehingga seseorang menikah dan mendapatkan putera sementara namanya telah keluar dalam daftar orang – orang yang meninggal dunia]

Ibnu Abbas ra berkata: [Sesungguhnya Allah membuat keputusan – keputusan seluruhnya pada malam nishfu sya’ban dan menyerahkannya kepada para pemliknya (pelaksana) pada malam Lailatul Qadar] dalam riwayat lain; […pada malam ke dua puluh tujuh Ramadhan] dua versi ini bisa dipertemukan, bahwa malam ke 27 waktu itu bertepatan dengan Lailatul Qadar[1].

  1. Lailatut Takfiir.

Disebut dengan Lailatut Takfiir karena malam ini bisa menghapus dosa – dosa setahun sementara Malam Jum’at menghapus dosa – dosa seminggu. Adapun Lailatur Qadar menghapus dosa – dosa seumur hidup. Demikian disebutkan oleh Imam Taqiyyuddin As Subki dalam tafsirnya.

  1. Lailatul Ijabah

Di antara namanya adalah Lailatul Ijabah seperti diriwayatkan dari Ibnu Umar ra. Beliau berkata: [Ada lima malam di mana di dalamnya do’a tidak ditolak; malam jum’at, malam pertama bulan Rajab, malam nishfu sya’ban, lailatul qadar dan dua malam hari raya]

  1. Lailatul Hayat wa Lailat Idul Malaikat.

Nama ini disebutkan oleh Abu Abdillah Thahir bin Muhammad bin Ahmad al Haddadi dalam kitabnya Uyunul Majalis tentang pendapat bahwa malaikat di langit memiliki dua malam hari raya seperti halnya kaum muslimin di bumi memiliki dua hari raya. Hari raya malaikat adalah Lailatul Bara’ah yakni malam nishfu sya’ban dan malam lailatul qadar sementara hari raya kaum beriman adalah Idul Fithri dan Idul Adha. Hari raya malaikat berada di malam hari karena mereka tidaklah tidur yang karena itu siang atau malam sama bagi mereka. Sedang hari raya anak keturunan Adam di siang hari karena malam adalah waktu tidur bagi mereka  guna beristirahat.

  1. Lailatus Syafa’ah.

Nama ini diberikan oleh Abu Manshur Muhammad bin Abdillah al Hakim an Naisaburi dan yang lain

  1. Lailatul Bara’ah wa Lailatus Shakk

Disebut dengan nama ini karena di malam ini kaum beriman mendapat kepastian terbebas serta memperoleh piagam atau sertifikat (Shakk) ampunan. Sebagian ulama ditanya tentang nama Lailatul Bara’ah ini dan Beliau menjawab: [Ketika Amil memungut zakat dan sedekah dan telah menunaikan seluruh hak Baitul Maal maka ia pasti memberikan tulisan dan penegasan bahwa ia telah lepas / bebas dari semua hak atasnya. Pada Lailatul Bara’ah juga diberikan seperti itu. Masing – masing mendapat piagam kebebasan dan dikatakan kepadanya, “Anda telah memenuhi seluruh hak dan telah menunaikan syarat – syarat ubudiyyah maka ambil piagam kebebasanmu dari neraka” dan dikatakan pula kepada seseorang: “Anda meremehkan hak – hak saya dan tidak pernah menunaikan syarat – syarat ubudiyyah maka silahkan ambil kebebasan anda dari al Jabbar”

  1. Lailatul Jaizah wa Lailatur Rujhan wa Lailatut Ta’zhiim wa Lailatul Qadr.

Nama – nama ini dinukil oleh Imam Taqiyyuddin As Subki dalam tafsir Beliau

  1. Lailatul Ghufran

Di antara namanya adalah Malam Ampunan dan Kebebasan dari neraka – neraka[2].

Cara Menghidupkan

Para ulama Syam berbeda dalam cara menghidupkan malam Nishfu Sya’ban;

Pertama. Disunnahkan untuk menghidupkannya secara bersama – sama di masjid – masjid. Adalah Khalid bin Ma’dan dan Luqman bin Amir serta selain keduanya, senantiasa memakai pakaian terbaik mereka. Mereka juga memakai minyak wangi, bercelak dan selanjutnya melakukan Qiyam di masjid pada malam harinya. Apa yang mereka lakukan ini disetujui oleh Ishaq bin Rahuyah. Bahkan terkait Qiyamullail secara berjama’ah di masjid pada malam Nishfu Sya’ban, Ishaq berkata: [Hal tersebut bukanlah Bid’ah] ungkapan ini juga dinukil oleh Harb al Karmani dalam Masa’il –nya

Kedua. Berkumpul untuk shalat, mendengar ceramah dan berdo’a  di masjid – masjid pada malam Nishfu Sya’ban hukumnya makruh. Dan tidak dimakruhkan apabila seseorang shalat sendiri di sana.

Ini adalah pendapat al Auza’i, orang alim, ahli fiqih dan Imam penduduk Syam dan inilah yang Insya Allah lebih mendekati kebenaran.

Bersambung.

 

Catatan Kaki:

[1] Al Kalimat al Hisaan fi Fadhaa’il Lailah Nishfu Sya’ban li Syekh Hasanain Muhammad Ali Makhluf al Adawi hal 46

[2] Tuhfatul Ikhwan fi Qira’atul Mii’ad fi Rajaba wa Sya’bana wa Ramadhana li Syekh Syihabuddin Ahmad Hijazi al Fasyni hal 86 – 87

About shofwah