Madza fi Sya’ban: Keutamaan Shalawat

bulansyaban

Pada artikel sebelumnya, pembahasan kita adalah tentang Sya’ban, Bulan Shalawat. Masih berkaitan dengan itu, kali ini kita akan membahas tentang Keutamaan Shalawat. Selamat mengikuti.

Keutamaan Shalawat atas Nabi shallallahu alaihi wasallam

Sesungguhnya keutamaan – keutamaan bershalawat atas Nabi shallallahu alaihi wasallam sangatlah banyak. Pena tumpul dan lemah tak akan bisa menghitungnya. Buku – buku terlalu sempit memuat catatan – catatannya. Karena itulah kita hanya bisa menyebutkannya sebagiannya saja secara ringkas:

  1. Orang yang bershalawat atas Nabi shallallahu alaihi wasallam akan mendapat sepuluh shalawat dari Allah. Imam Muslim dan para pemilik kitab sunnah meriwayatkan dari Abu Hurairah ra. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

مَنْ صَلَّي عَلَيَّ صَلاَةً صَلَّى الله عَلَيْهِ عَشْرًا

Barang siapa bershalawat sekali atasku maka Allah bershalawat atasnya sepuluh kali”

Abdurrahman bin Auf ra bercerita: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam keluar. Aku mengikutinya hingga Beliau masuk ke dalam area kebun kurma. Beliau lalu sujud lama sekali hingga aku khawatir Allah telah mengambilnya. Aku menunggu sambil terus melihat hingga Beliau mengangkat kepala dan bersabda: “Ada apa denganmu wahai Abdurrahman?” Aku lalu menjelaskan perihalku dan Beliau pun bersabda: “Sesungguhnya Jibril alaihissalam berkata kepada: “Apakah aku akan memberikan kabar gembira kepadamu bahwa sesungguhnya Allah berfirman: ((Barang siapa bershalawat atasmu maka Aku bershalawat atasnya. Barang siapa bersalam atasmu maka Aku bersalam atasnya)) Beliau melanjutkan: “Maka aku bersujud kepada Allah sebagai ungkapan rasa syukur” HR. Ahmad.

  1. Orang yang bershalawat atas Nabi shallallahu alaihi wasallam mendapat balasan shalawat dari Beliau. Anas bin Malik ra berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

مَنْ صَلَّي عَلَيَّ بَلَغَـتْنِي صَلاَتُهُ وَصَلَّيْتُ عَلَيْهِ وَكُتِبَ لَهُ سِـوَي ذَلِكَ عَشْرُ حَسَنَاتٍ

Barang siapa bershalawat atasku maka shalawatnya sampai kepadaku dan aku bershalawat atasnya dan di samping itu ditulis baginya sepuluh kebaikan” (HR. Thabarani dengan Sanad yang tidak mengapa. Targhib lil Mundziri)

  1. Orang yang bershalawat atas Nabi shallallahu alaihi wasallam, malaikat akan bershalawat atasnya. Anas bin Malik ra berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Perbanyaklah shalawat atasku pada hari jum’at karena sesungguhnya Jibril barusan datang kepadaku (dan membawa pesan) dari Allah:

مَا عَلَى اْلأَرْضِ مِنْ مُسْلِمٍ يُصَلِّي عَلَيْكَ مَرَّةً وَاحِدَةً إِلاَّ صَلَّيْتُ أَنَا وَمَلاَئِكَتِي عَلَيْهِ عَشْرًا

[Tidak ada orang muslim di atas bumi yang bershalawat atasmu sekali saja kecuali Aku dan malaikatKu bershalawat atasnya sepuluh kali]

Al Hafizh al Mundziri berkata: (Diriwayatkan oleh Imam Thabarani). Dari Abdullah bin Amar ra: “Barang siapa yang bershalawat atas Nabi shallallahu alaihi wasallam sekali maka Allah dan malaikatNya bershalawat atasnya tujuh puluh kali” al Mundziri berkata: (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dengan sanad Hasan) dalam Ad Durr al Mandhud disebutkan: (Hukum hadits ini adalah Marfu’ karena tidak ada hak bagi pendapat untuk berjalan di sini)

Dari Amir bin Rabi’ah ra dari ayahnya yang berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda dalam khutbahnya: “Barang siapa bershalawat atasku maka malaikat senantiasa bershalawat atasnya selama ia bershalawat atasku”(HR Ahmad Ibnu Abi Syaibah Ibnu Majah dengan sanad Hasan seperti dikatakan oleh Imam al Haitsami).  Dalam riwayat lain disebut: “Tiada hamba yang bershalawat atasku kecuali malaikat bershalawat atasnya selama ia bershalawat atasku. Maka silahkan seorang hamba menyedikitkan hal itu atau memperbanyak” (Dalam Fathul Bari; HR Ahmad Ibnu Majah dan Dhiyauddin al Maqdisi)

  1. Orang yang bershalawat atas Nabi shallallahu alaihi wasallam ditinggikan derajat, ditambah kebaikan – kebaikan serta dihapus kesalahan – kesalahannya. Abu Buraidah An Nayyar ra berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

مَنْ صَلَّى عَلَيَّ مِنْ أُمَّتِي مُخْلِصًا مِنْ قَلْبِهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ بِهَا عَشْرَصَلَوَاتٍ وَرَفَعَهُ بِهَا عَشْرَ دَرَجَاتٍ وَكَتَبَ لَهُ بِهَا عَشْرَ حَسَنَاتٍ وَمَحَا عَنْهُ بِهَا عَشْرَ سَيِّـئَاتٍ

Barang siapa dari umatku yang bershalawat atasku secara ikhlas dari hatinya maka Allah pasti bershalawat sepuluh kali atasnya, meninggikan derajatnya sepuluh derajat, menulis baginya sepuluh kebaikan dan menghapus darinya sepuluh keburukan” (HR Nasai Thabarani dan disebut dalam At Targhib lil Mundziri)

Dari Abu Thalhah al Anshari ra. Ia berkata:

Pada suatu hari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menyambut pagi dengan hati riang. Ada raut gembira di wajahnya. Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, anda menyambut pagi dengan riang hati dan kelihatan gurat gembira di wajah engkau?” Beliau bersabda: “Ada orang  dari Tuhanku azza wajall datang kepadaku dan berkata: “Barang siapa dari umatmu yang bershalawat sekali atasmu  maka Allah menulis baginya sepuluh kebaikan, melebur darinya sepuluh keburukan dan meninggikannya sepuluh derajat serta mengembalikan atasnya sepadan shalawatnya” (HR Ahmad Nasai. At Targhib lil Mundziri)

Dalam riwayat lain versi Imam Ahmad: Sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pada suatu hari kelihatan berbinar wajah. Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, kami menyaksikan kegembiraan di wajahmu?” Beliau bersabada: “Sesungguhnya malaikat datang kepadaku dan berkata: “Wahai Muhammad, apakah tidak merelakanmu bahwa sesungguhnya Tuhanmu azza wajalla berfirman: {Sesungguhnya tidak seorang dari umatmu yang bershalawat sekali atasmu kecuali Aku bershalawat atasnya sepuluh kali. Dan tidak bersalam atasmu seseorang dari umatmu kecuali aku bersalam atasnya sepuluh kali}?” Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjawab: “Ia” (al Hafizh al Mundziri berkata: Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam shahihnya)

Terkait Shalawat Allah atas orang yang bershalawat atas Rasulullah shallallahu alaihi wasallam   Al Qadhi Iyadh rahimahullah berkata:

[Allah Mengasihaninya dan melipatgandakan pahalanya seperti firman Allah:

مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْـثَالِهَا

Barang siapa datang dengan kebaikan maka baginya sepuluh sepadannya”QS al An’aam:160.

Atau secara zhahirnya – maksudnya Allah memuji dan mengagungkan orang tersebut – dengan firman yang bisa terdengar oleh malaikat sebagai bentuk kemuliaan dan penghormatan bagi orang yang bershalawat seperti halnya dalam Hadits Qudsi, “…dan jika ia menyebutKu dalam sebuah perkumpulan maka Aku menyebutnya dalam perkumpulan yang lebih baik…” ]

Hadits – hadits tersebut telah mengabarkan bahwa Allah bershalawat sepuluh kali atas orang yang bershalawat atas nabiNya dan sesungguhnya penyebutan Allah akan seorang hamba lebih mulia berlipat kali daripada amal kebaikan. Hal ini karena ketika Allah tidak menjadikan balasan Dzikir kecuali penyebutanNya, “ maka jika ia menyebutKu dalam dirinya maka Aku menyebutnya dalam diriKu dan bila ia menyebutku dalam perkumpulan niscaya Aku menyebutnya dalam perkumpulan yang lebih baik “, maka begitu pula Dia menjadikan balasan menyebut nabi dan kekasihNya. Karena itu barang siapa yang bershalat atas nabiNya shallallahu alaihi wasallam maka Allah pasti bershalawat atasnya. PenyebutanNya adalah dengan kasih sayang, pujian, penghormatan dan kebaikanNya.

Syekh Burhanuddin bin Abi Syarif rahimahullah berkata:

[Barang siapa mengerahkan dan menggunakan fikiran maka akan terus datang atasnya para pengantar kebahagian dengan membawa anugerah berupa kebaikan dan rahasia dari Allah. Kabar gembira yang mengalir di seluruh jaringan otot persendian. Di manakah shalawat seorang hamba di banding dengan shalawat Maha Raja (Allah)? Bagaimana tidak, seorang hamba bershalawat sekali atas Nabi shallallahu alaihi wasallam sementara Allah bershalawat atasnya sepuluh kali. Betapa banyak Allah mengalirkan pahala berlimpah atasnya?] (Demikian dari Syarah al Adzkaar li Ibni al Allaan). Dari  Anas ra sesungguhnya Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Tiada seorang hamba yang mengingatku lalu bershalawat atasku kecuali Allah menulis baginya sepuluh kebaikan, melebur darinya sepuluh keburukan dan mengangkat baginya sepuluh derajat”

Kebesaran, keagungan dan lipat ganda pahala yang dimiliki orang yang bershalawat salam atas Nabi shallallahu alaihi wasallam memberikan makna pemberitahuan betapa Allah sangat memuliakan kekasihNya shallallahu alaihi wasallam. dan sekaligus pengumuman akan keagungan sang kekasih mengalahkan seluruh nabi dan utusan alaihimusshalatu wassalaam. Karena inilah ketika kabar gembirta tersebut diberitakan oleh Jibril, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersujud sebagai ungkapan rasa syukur atas keistimewaan dan hadiah yang mahal ini.

Imam Ahmad dan Imam Hakim meriwayatkan dari Abdurrahman bin Auf ra yang bercerita: [Rasulullah shallallahu alaihi wasallam keluar. Aku mengikutinya hingga Beliau masuk ke dalam area kebun kurma. Beliau lalu sujud lama sekali hingga aku khawatir Allah telah mengambilnya. Aku menunggu sambil terus melihat hingga Beliau mengangkat kepala dan bersabda: “Ada apa denganmu wahai Abdurrahman?” Aku lalu menjelaskan perihalku dan Beliau pun bersabda: “Sesungguhnya Jibril alaihissalam berkata kepada: “Apakah aku akan memberikan kabar gembira kepadamu bahwa sesungguhnya Allah berfirman: ((Barang siapa bershalawat atasmu maka Aku bershalawat atasnya. Barang siapa bersalam atasmu maka Aku bersalam atasnya)) Beliau melanjutkan: “Maka aku bersujud kepada Allah sebagai ungkapan rasa syukur” ]

Al Hafizh al Mundziri berkata: Hadits tersebut juga diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dun’ya dan Abu Ya’la dengan teks:

كَانَ لاَ يُفَارِقُ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ خَمْسَةٍ أَوْ أَرْبَعَةٍ مِنْ أَصْحَابِ رَسُوْلِ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّم لِمَا يَنُوْبُهُ مِنْ حَوَائِجِهِ باِللَّيْلِ وَالنَّهَارِ , قَالَ : فَجِئْـتُهُ وَقَدْ خَرَجَ فَاتَّبَـعْتُهُ , فَدَخَلَ حَائِطًا مِنْ حِيْطَانِ اْلأَشْرَافِ فَصَلَّى فَسَجَدَ فَأَطَالَ السُّجُوْدَ , فبَكَيْتُ وَقُلْتُ : قَبَضَ الله رُوْحَهُ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: فَرَفَعَ رَأْسَهُ فَدَعَانِي فَقَالَ : “مَا لَكَ ؟” فَقُلْتُ : يَارَسُوْلَ الله أَطَلْتَ السُّجُوْدَ وَقُلْتُ : قَبَضَ الله رُوْحَ رَسُوْلِهِ صَلَّى الله علَيه وَسَلَّم لاَ أرَاهُ أَبدًا فَقَالَ : ” سَجَدْتُ شُكْرًا لِرَبِّيْ فِيْمَا أَبْلاَنِي فِى أُمَّتِي , مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاَةً مِنْ أُمَّتِي كَتَبَ الله لَهُ عَشْرَ حَسَنَاتٍ وَمَحَا عَنْهُ عَشْرَ سَيِّـئَاتٍ “

Adalah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak pernah berpisah dengan empat atau lima sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam untuk menggantikan Beliau dalam kebutuhan – kebutuhannya pada siang dan malam. Abdurrahman berkata:”Aku lalu datang dan ternyata Beliau sudah keluar. Aku lalu mengikutinya. Beliau pun masuk ke dalam salah satu kebun kurma al Asyraf. Beliau shalat dan bersujud. Lama Beliau bersujud hingga aku menangis dan berkata: “Allah telah mengambil roh shallallahu alaihi wasallam” Abdurrahman melanjutkan: Beliau pun mengangkat kepala dan memanggilku: “Ada apa denganmu?” aku menjawab: Wahai Rasulullah, engkau memperpanjang sujud hingga saya berkata: Allah telah mengambil roh utusanNya dan aku tidak menginginkan itu selamanya. .Beliau lalu bersabda: “Aku bersujud sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhanku terkait ujianNya atasku dalam masalah umatku bahwa barang siapa bershalawat sekali atasku maka Allah menulis baginya sepuluh kebaikan dan melebur darinya sepuluh kesalahan”

  1. Orang yang bershalawat mendapatkan pahala sepadan dengan memerdekakan sepuluh budak karena Allah. Dari Bara’ bin Azib ra. sesungguhnya Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

مَنْ صَلَّى عَلَيَّ مَرَّةً كَتَبَ الله تَعَالَى لَهُ عَشْرَ حَسَنَاتٍ وَمَحَا عَنْهُ عَشْرَ سَيِّـئَاتٍ وَرَفَعَهُ الله عَشْرَ دَرَجَاتٍ وَكُنَّ لَهُ عَدْلُ عَشْرِ رِقَابٍ

Barang bershalawat sekali atasku maka Allah menulis baginya sepuluh kebaikan, melebur darinya sepuluh keburukan,  mengangkat untuknya sepuluh derajat dan sepuluh itu baginya sepadan dengan sepuluh budak” (al Mundziri berkata: Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Ashim dalam Kitabusshalat dari Maula (budak yang dimerdekakan) Bara’ dan tak seorang pun menyebutkan namanya. Maksudnya dari Bara’ bin Azib ra)

  1. Shalawat sebagai sebab diampuni dosa – dosa dan ini sesuai dengan kadar keimanan, kecintaan dan keikhlasan dalam bershalawat atas Nabi shallallahu alaihi wasallam. Ibnu Abi Ashim dan Thabarani meriwayatkan dari Abu Kahil ra. Ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda kepadaku:

يَاأَبَا كَاهِلٍ , مَنْ صَلَّى عَلَيَّ كُلَّ يَوْمٍ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ وَكُلَّ لَيْلَةٍ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ حُبًّا وَشَوْقًا إِلَيَّ كَانَ حَقًّا عَلَى اللهِ أَنْ يَغْفِرَ ذُنُوْبَهُ تِلْكَ اللَّيْلَةِ وَذَلِكَ الْيَوْمِ

Wahai Abu Kahil, barang siapa bershalawat atasku setiap hari tiga kali dan setiap malam tiga kali karena kecintaan dan kerinduan kepadaku maka hak atas Allah untuk mengampuni dosa – dosanya pada malam itu dan hari itu”(Al Mundziri menuturkan hadits ini dengan bahasa, “Diriwayatkan / Ruwiya” dan menyebutkannya dalam Jalaa’ul Afhaam sekaligus dengan sanadnya)

  1. Shalawat atas Nabi shallallahu alaihi wasallam memohonkan ampunan dan menghibur pemiliknya di dalam kubur. Dari Sayidah Aisyah ra. ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam  bersabda:

مَا مِنْ عَبْدٍ صَلَّى عَلَيَّ صَلاَة ًإِلاَّ خَرَجَ بِهَا مَلَكٌ حَتَّى يَجِيْءَ بِهَا وَجْهَ الرَّحْمنِ عَزَّ وَجَلَّ فَيَقُوْلُ رَبُّـنَا تبَارَكَ وَتَعَالَى : اذْهَبُوْا بِهَا إِلَى قَبْرِ عَبْدِي تَسْتَغْفِرُ لِصَاحِبِهَا وَتَقِرُّ بِهَا عَيْـنُهُ

Tiada seorang hamba yang bershalawat sekali atasku kecuali seorang malaikat membawa shalawat tersebut kepada Ar Rahman azza wajalla. Tuhan kita tabaaraka wata’alaa lalu berfirman: “Bawalah shalawat ini ke kubur hambaKu agar ia memohonkan ampunan untuk pemiliknya dan menjadi penenang hatinya”

  1. Dan di antara keistimewaan shalawat atas Nabi shallallahu alaihi wasallam adalah syafaat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kepada pemilik shalawat. Abu Bakar ra berkata: Aku mendengar dalam haji wada’ Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ الله عَزَّ وجَلَّ قَدْ وَهَبَ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ عِنْدَ اْلإِسْتِغْفَارِ فَمَنِ اسْتَغْفَرَ بِنِـيَّةٍ صَادِقَةٍ غُفِرَ لَهُ وَمَنْ قَالَ لاَإِلهَ إِلاَّ الله رَجَحَ مِيْـزَانُهُ وَمَنْ صَلَّى عَلَيَّ كُنْتُ شَفِيْعَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Sesungguhnya Allah memberikan anugerah dosa – dosa kalian kepada kalian ketika Istighfar, maka barang siapa beristighfar dengan niat yang sungguh, ia pasti mendapat ampunan. Dan barang siapa mengucapkan laa ilaaha illallah maka timbangannya akan unggul dan barang siapa bershalawat atasku maka aku menjadi orang yang memberikan syafaat kepadanya di hari kiamat” (HR Abu Dawud)

  1. Di antara keutamaan shalawat atas Nabi shallallahu alaihi wasallam adalah bahwasanya shalawat bisa menafikan kefakiran dan meluberkan kebaikan serta keberkahan. Hadits tentang hal itu diriwayatkan dari banyak jalur dengan banyak sanad yang satu sama lain sama menguatkan. Abu Nuaim meriwayatkan dari Samurah bin Jundub ra. Ia berkata:

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُوْلِ الله صَلَّى الله علَيْهِ وَسَلَّم فَقَالَ يَا رَسُوْلَ الله , مَا أَقْرَبُ اْلأَعْمَالِ إِلَى الله؟ فَقَالَ صلَّى الله عَليْهِ وَسلَّم : ” صِدْقُ الْحَدِيْثِ وَأَدَاءُ اْلأَمَانَةِ ” فَقُلْتُ يَا رَسُوْلَ الله زِدْنَا , قَالَ : ” صَلاَةُ اللَّيْلِ وَصَوْمُ الْهَوَاجِرِ ” فَقُلْتُ يَا رَسُوْلَ الله زِدْنَا , قَالَ : ” كَثْرَةُ الذِّكْرِ وَالصَّلاَةُ عَلَيَّ تَنْفِى الْفَقْرَ” فَقُلْتُ يَا رَسُوْلَ الله زِدْنَا , قاَلَ صَلَّى الله علَيْهِ وَسَلَّم : “مَنْ أَمَّ فَلْيُخَفِّفْ فَإِنَّ مِنْهُمُ الْكَبِيْرَ وَالْعَلِيْلَ وَالضَّعِيْفَ وَذَا الْحَاجَةِ ”

[Seorang lelaki datang dan berkata: Wahai Rasulullah, apakah amal yang paling dekat kepada Allah? Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Jujur berkata dan menunaikan amanat” maka aku berkata: Wahai Rasulullah, tambahkanlah untuk kami! Beliau bersabda: “Shalat malam dan puasa di terik hari” aku berkata: Wahai Rasulullah, tambahkanlah untuk kami! Beliau bersabda: “Banyak berdzikir dan bershalawat atasku bisa menafikan kemiskinan” aku berkata: Wahai Rasulullah, tambahkanlah untuk kami! Beliau bersabda: “Barang siapa menjadi Imam suatu kaum maka hendaknya meringankan (shalat) karena dari mereka ada orang tua, orang sakit, orang lemah dan orang yang mempunyai hajat” ]

Al Hafizh Abu Musa al Madini meriwayatkan dengan sanad dari Sahl bin Sa’ad ra. Ia berkata: [Seorang lelaki datang mengeluhkan kefakiran dan sulitnya penghidupan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Beliau lalu bersabda: “Jika masuk rumahmu maka ucapkanlah salam baik di dalamnya ada seseorang atau tidak ada siapapun. Lalu ucapkanlah salam atasku dan bacalah Qul Huwallahu Ahad.. sekali!” lelaki itu kemudian melakukan hal tersebut hingga Allah melancarkan rizkinya hingga meluber kepada para tetangga dan kerabatnya]

  1. Orang yang memperbanyak shalawat menjadi manusia yang paling berhak dengan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Dari  Anas ra. sesungguhnya Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

أَوْلَى النَّاسِ بِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَكْثَرُهُمْ عَلَيَّ صَلاَةً

Orang yang paling berhak denganku di hari kiamat adalah yang paling banyak bershalawat atasku” HR. Turmudzi.

Ibnu Hibban berkata: [Hadits ini adalah dalil bahwa sesungguhnya orang yang paling berhak dengan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pada hari kiamat – artinya yang paling dekat dengan Beliau – adalah para ahli hadits karena di umat ini tidak ada yang paling banyak bershalawat mengalahkan mereka].

Al Allamah al Haitami berkata – begitu juga yang lain –  :[Dalam hadits ini adalah kabar gembira yang besar bagi ahli hadits karena mereka senantiasa bershalawat atas Nabi shallallahu alaihi wasallam secara ucapan dan perbuatan, siang dan malam, ketika membaca dan menulis. Merekalah manusia paling banyak bershalawat yang karena itu semua mereka mendapat hak istimewa menempati derajat ini, dan bukan kelompok atau golongan ulama yang lain].

  1. Berkah dan kebaikan Shalawat diperoleh orang yang bershalawat serta anak dan cucunya sebagaimana dikatakan Hudzaifah ra:

الصَّلاَةُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّم تُدْرِكُ الرَّجُلَ وَوَلَدَهُ وَوَلَدَ وَلَدِهِ

Shalawat atas nabi shallallahu alaihi wasallam didapatkan oleh seseorang, anaknya dan anak anaknya (cucunya)”

Ya Allah, berikanlah shalawat atas junjungan kami seperti Engkau perintahkan kami agar bershalawat atasnya, seperti Engkau suka bershalawat atas Beliau,  dan seperti Beliau suka mendapatkan shalawat, dan seperti Beliau berhak mendapatkannya di sisimu, dan atas keluarga dan sahabat Beliau, dan atas kami seluruhnya.

Wangi Majilis dengan Shalawat

Imam Hakim meriwayatkan dengan sanad dari Abu Hurairah ra. Ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

          مَا مِنْ قَوْمٍ جَلَسُوْا مَجْلِسًا وَتَفَرَّقُوْا مِنْهُ لَمْ يَذْكُرُوا اللهَ فِيْهِ إِلاَّ كَأَنَّمَا تَفَرَّقُوْا عَنْ جِيْفَةِ حِمَارٍ وَكَانَ عَلَيْهِمْ حَسْرَةٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Tiada kaum yang duduk dalam suatu majlis dan bubar sebelum berdzikir kepada Allah di dalamnya  kecuali seakan mereka bubar dengan meninggalkan bangkai himar dan kelak hari kiamat ada penyesalan atas mereka”  [Hadits ini dikeluarkan oleh al Mundziri dalam at Targhib wat Tarhiib dan Beliau berkata: Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Hakim. Hakim berkata: Hadits ini shahih sesuai syarat Muslim]

Aku (Abuya) berkata: ”Imam Nawawi dalam al Adzkar  dan Riyadhus Shalihin  menshohihkan sanad hadits ini”. Ibnul Jauzi dalam al Bustan berkata: [Jika majlis di mana di situ tidak terbaca shalawat atas nabi shallallahu alaihi wasallam para hadirin yang bubar dari sana meninggalkan bau lebih busuk daripada bangkai maka tidak diragukan lagi bahwa orang – orang yang bershalawat bubar dari majlis mereka dengan meninggalkan bauh lebih wangi daripada lemari penjual minyak  wangi. Ini karena Nabi shallallahu alaihi wasallam adalah yang terwangi di antara yang wangi, yang tersuci di antara yang suci. Jika bersabda maka majlis penuh dengan bau misik. Dan begitu pula majlis yang di dalamnya Nabi shallallahu alaihi wasallam disebut, tentu akan menebar dari sana bau wangi yang menembus tujuh langit hingga sampai ke Arasy dan baunya akan dirasakan oleh seluruh makhluk Allah selain manusia dan jin. Sebab jika mereka (manusia dan jin) merasakan bau itu niscaya mereka terlena dengan kelezatannya hingga melupakan penghidupannya. Dan tiada malaikat atau siapapun makhluk Allah yang merasakan bau itu kecuali memohonkan ampunan untuk orang yang hadir dalam majlis dan ditulis untuk mereka kebaikan sebanyak makhluk itu seluruhnya, diangkat derajat mereka sebanyak jumlah makhluk tersebut baik hanya seorang dalam majlis atau seratus ribu orang. Setiap orang mengambil pahala sebanyak bilangan makhluk itu dan di sisi Allah lebih banyak lagi. Dikatakan:

          تَتَعَطَّرَ اْلأَوْقَاتُ مَا ذُكِرَتْ  أَخْبَارُهُ فِى الْمَجْلِسِ الْعِطْرِ

          سُبْحَانَ خَالِـقِهِ وَبَارِئِهِ       نُوْرًا تُصَوِّرُ أَحْسَنَ الصُّوَرِ

Waktu – waktu menjadi wangi selama kabar – kabarnya disebut dalam majlis
Maha Suci Penciptanya, cahaya yang membentuk sebagus – bagus rupa

Al Kawwaz al Basthami berkata: [Aku memohon kepada Allah agar melihat Abu Shaleh al Muadzdzin dalam tidur. Pada suatu malam aku melihatnya dalam keadaan baik. Aku bertanya: “Wahai Abu Shaleh, beritakan kepadaku tentang yang ada di sisi kalian!” Abu Shaleh berkata: “Sungguh aku termasuk orang – orang yang mengalami kehancuran andai bukan karena banyak shalawatku atas Rasulullah shallallahu alaihi wasallam”]

Dikisahkan bahwa Syibli berkata: [Seorang lelaki tetanggaku meningga dunia. Lalu dalam mimpi aku melihat dan bertanya tentang keadaanya. Ia lalu menjelaskan: “Wahai Syibli, telah lewat dariku kesusahan besar. Ketika ditanya maka lidahku terjulur. Ketika dua malaikat datang dan salah satunya ingin segera menyiksaku, tiba – tiba ada seseorang yang tidak pernah kusaksikan ada yang lebih tampan daripada wajahnya. Ia lalu menghalangi antara aku dan dua malaikat. Aku bertanya kepadanya setelah ia mengajarkan hujjah kepadaku: Siapakah anda? Ia menjawab: Aku adalah malaikat yang diciptakan Allah dari pahala shalawatmu atas Muhammad shallallahu alaihi wasallam dan dulu sewaktu di dunia kamu memperbanyak membaca shalawat atas Muhammad shallallahu alaihi wasallam. maka Allah Mencipatkanku untukmu sebagai ganti shalawatmu atas Muhammad shallallahu alaihi wasallam agar aku menyelamatkanmu dengan izin Allah dari seluruh kesusahan, dan dari siksa neraka sehingga aku akan memasukkanmu ke surga dengan rahmat Allah].[1]

 Wahai saudaraku, jangan pernah kalian merasa bosan dari bershalawat atas Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Bersambung.

 

Catatan kaki:

[1] Tuhfatul Ikhwan fi Qira’atil Miiaad fi Rajaba wa Sya’bana lil Imam Ahmad bin Hijazi al fasyni hal 76

About shofwah