Madza fi Sya’ban: Istighfar

ampunan

Pada artikel sebelumnya, kita membahas tentang kalimat Laa illaha illallah. Ikuti pembahasan selanjutnya tentang Istighfar:

Istighfar adalah hal terbesar dan paling agung bagi seorang muslim yang penuh semangat untuk selalu sibuk dengannya pada masa – masa yang utama yang di antaranya adalah Sya’ban dan malam Nishfu Sya’ban. Istighfar adalah di antara sebab dimudahkannya rizki yang keutamaannya ditunjukkan oleh banyak nash dari Alqur’an dan hadits – hadits Penghulu para kekasih shallallahu alaihi wasallam.

Di dalamnya ada peleburan dosa, penyingkap susah, penghilang dan penolak duka. Hal itu karena banyaknya susah dan  bertubi – tubinya duka adalah disebabkan keburukan dosa dan selalu melakukan dosa, maka sangat patut jika Istighfar dan keseriusan bertaubat dan permohonan maaf menjadi obatnya. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

مَنْ لَـزِمَ اْلإِسْتِغْفَارَ جَعَلَ الله لَهُ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَـَرجًا وَمِنْ كُلِّ ضِيْقٍ مَخْرَجًا وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ

Barang siapa menetapi Istighfar maka Allah menjadikan untuknya kesenangan sebagai ganti kesedihan, jalan keluar sebagai ganti kesulitan dan Dia memberikannya rizki dari arah yang tidak disangkanya”(HR Abu Dawud Nasai Ibnu Majah Hakim)

Dari Anas ra ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

          قَالَ اللهُ : يَابْنَ آدَمَ إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِيْ وَرَجَوْتَنِيْ غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ مِنْكَ وَلاَ أُباَلِي , يَابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوْبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِيْ غَفَرْتُ لَكَ وَلاَ أُبَالِيْ , يَابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْـتَنِي بِقُرَابِ اْلأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيْتَنِي لاَ تُشْرِكُ بِي شَيْئًا َلأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً

[Allah berfirman: “Wahai anak Adam, sesungguhnya selama kamu memohon dan berharap kepadaKu niscaya Aku Mengampunimu atas segala yang pernah ada darimu dan Aku tidak akan Mempedulikannya. Wahai anak Adam, andai dosa – dosamu membumbung tinggi mencapai langit kemudian kamu memohon ampunan kepadaKu niscaya Aku Mengampunimu dan Aku tidak mempedulikannya. Wahai anak Adam, sesungguhnya jika kamu datang kepadaKu dengan kesalahan – kesalahan sepenuh bumi kemudian kamu datang kepadaKu tanpa menyekutukanKu dengan apapun niscaya Aku akan datang kepadamu dengan ampunan sepenuh bumi”(HR Turmudzi)

Dari Abu Said al Khudri ra dari Nabi shallallahu alaihi wasallam. Beliau bersabda:

          قَالَ إِبْلِيْسُ : وَعِزَّتِكَ لاَ أَبْرَحُ أُغْوِي عِبَادَكَ مَا دَامَتْ أَرْوَاحُهُمْ فِى أَجْسَادِهِمْ , فَقَالَ : وَعِزَّتِي وَجَلاَلِي لاَ أَزَالُ أَغْفِرُ لَهُمْ مَا اسْتَغْفَرُوْنِي

Iblis berkata: “Demi keagunganMu, saya senantiasa akan menyesatkan para hambaMu selama nyawa masih ada di tubuh mereka” Allah berfiman: “Demi kemuliaan dan keagunganKu, Aku selalu Mengampuni mereka selama mereka memohon ampunan kepadaKu” (HR Hakim. Ia berkata: Hadits ini sanadnya shahih)

Dari Abdullah bin Busr ra. ia berkata: Aku mendengar Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

          طُوْبَى لِمَنْ وُجِدَ فِى صَحِيْفَتِهِ إِسْتِغْفَارٌ كَثِيْرٌ

Sungguh sangat beruntung orang yang ditemukan banyak Istighfar dalam catatan amalnya”(HR Ibnu Majah dengan Sanad Shahih)

Dari Zuber ra sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

          مَنْ أَحَبَّ أَنْ تَسُرَّهُ صَحِيْفَتُهُ فَلْيُكْثِرْ فِيْهَا مِنَ اْلإِسْتِغْفَارِ

Barang siapa yang ingin bergembira dengan catatan amalnya maka hendaklah ia memperbanyak Istighfar di dalamnya”(HR Baihaqi)

Dari Ummi Ishmah al Aushiyyah ra. ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

          مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَعْمَلُ ذَنْبًا إِلاَّ وَقَفَ الْمَلَكُ ثَلاَثَ سَاعَاتٍ فَإِنِ اسْتَغْفَرَ مِنْ ذَنْبِهِ لَمْ يَكْتُـبْهُ عَلَيْهِ وَلَمْ يُعَذِّبْهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Tiada seorang muslim yang melakukan dosa kecuali malaikat berhenti tiga saat (jam); bila ia memohon ampunan dari dosanya maka malaikat itu tidak mencatatnya dan Allah tiada akan menyiksanya di hari kiamat”(HR Hakim)

Dari Abu Hurairah ra dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Beliau bersabda:

          إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيْـئَةً نُكِتَتْ فِى قَلْبِهِ نُكْتَةٌ فَإِنْ هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْـفَرَ صَقُلَتْ فَإِنْ عَادَ زِيْدَ فِيْهَا حَتَّي تَعْلُوَ قَلْـبَهُ فَذلِكَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَهُ الله تَعَالَى (( كَلاَّ بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوْبِهِمْ مَّا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ ))

Sesungguhnya jika seorang hamba melakukan kesalahan maka kesalahan itu menorehkan sebuah noktah dalam hatinya. Jika ia meninggalkan (dari dosa) dan memohon ampunan maka noktah itu kembali menjadi cerah. Lalu jika ia mengulangi maka noktah itu ditambah sehingga menutup hatinya. Dan itulah karat seperti disebutkan Allah dalam firmanNya, “Tidaklah demikian, tetapi apa yang mereka lakukan telah membuat hati – hati mereka berkarat” QS al Muthaffifin: 14”(HR Turmudzi Nasa’i Ibnu Majah Ibnu Hibban Hakim)

Dari Bilal bin Yasar bin Zaid ra. ia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku dari kakekku yang mendengar Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

[[Barang siapa mengucapkan:

          أَسْتَغْفِرُ اللهَ الَّذِي لاَ إِلهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ

Saya memohon ampunan kepada Allah Dzat yang tiada tuhan selainNya yang Maha Hidup Maha Mengurus. Dan aku bertaubat kepadaNya 

Maka diampuni baginya meski ia telah melarikan diri dari barisan perang”(HR Abu Dawud Turmudzi)]]

Allah berfirman menceritakan NabiNya, Nuh alaihissalam:

          فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوْا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا , يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا ويُمْدِدْكُمْ بِأَمْـوَالٍ وَبَنِيْنَ وَجَعَلَ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَجَعَلَ لَكُمْ أَنْهَارًا

“maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Diaadalah Maha Pengampun-, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai” QS Nuh: 10 -12..

Di antara faedah Istighfar – seperti dalam Biografi Imam Bukhari, yang ditulis oleh Imam Muhammad bin Ahmad Fadhl – adalah; melebur dosa, menutup cela, melancarkan rizki, keselamatan diri, terjaga harta benda dan tercapai cita – cita, dan kedekatan diri dengan Allah Dzat Maha Pembalas amal. Jadi baju yang kotor lebih membutuhkan sabun daripada minyak wangi supaya kotoran – kotoran hilang dan hati menjadi terang. Anugerah hanyalah milik Allah.

Seseorang mengeluhkan kemarau kepada Hasan al Bashri, Beliau pun menasehatkan: “Beristighfarlah kepada Allah!”. Seorang lain datang dan mengeluhkan kemiskinan, Beliau menasehati: “Beristighfarlah kepada Allah! “Seorang lagi datang mengeluh tidak memiliki anak, maka Hasan berpesan: “Beristighfarlah kepada Allah!” kepada mereka Hasan membacakan ayat – ayat Istighfar.

Diriwayatkan bahwa Umar ra pada suatu hari memohon hujan, tetapi Beliau tidak lebih hanya membaca Istighfar. Orang – orang bertanya: “Kami tidak melihat engkau menambahkan selain Istighfar?” Umar ra menjawab: “Aku memohon hujan dengan kunci – kunci langit” selanjutnya Beliau membaca firman Allah:

وَأَنِ اسْتَغْفِرُوْا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوْبُوْا إِلَيْهِ يُمَتّـِعْكُمْ مَّتَاعًا حَسَنًا إِلَى أَجَلٍ مُّسَمًّى

Dan hendaklah kalian memohon ampunan kepada Tuhan kalian kemudian bertaubatlah kepadaNya niscaya Dia akan selalu memberikan kesenangan yang bagus kepada kalian sampai pada masa yang tertentu “QS Hud : 3.

Allah berfirman mengisahkan Nabi Ya’qub alaihissalaam:

          سَوْفَ أَسْتَغْفِرُ اللهَ لَكُمْ رَبِّيْ

Aku akan memohonkan ampunan untuk kalian kepada Tuhanku”QSYusuf: 98.

Disebutkan: Nabi Ya’qub mengakhirkan Istighfar sampai waktu sahur di malam Jum’at dan kebetulan bertepatan dengan malam Asyura’. Dikatakan pula: Agar Beliau mengerti kesungguhan taubat dan keikhlasan mereka (Para saudara Nabi Yusuf). Dikatakan pula: Beliau bermaksud melanggengkan Istighfar atas mereka. Diriwayatkan bahwa Beliau memohon ampunan untuk mereka setiap malam jum’at dalam rentang waktu dua puluh tahun lebih.

Istighfar Nabawi  yang komplit

Dari Jabir bin Abdillah ra. ia berkata: Seorang lelaki datang kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan mengeluh: “Duhai dosa – dosaku, duhai dosa – dosaku”ucapan ini ia ulang sampai dua atau tiga kali hingga Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda kepadanya:

          قُلْ : أَللَّهُمَّ مَغْفِرَتُكَ أَوْسَعُ مِنْ ذُنُوْبِي وَرَحْمَتُكَ أَرْجَي عِنْدِيْ مِنْ عَمَلِي

Katakanlah: “Ya Allah, ampunanMu lebih luas daripada dosa – dosaku, kasih sayangMu lebih saya harapkan daripada amalku”

Lelaki itupun mengucapkannya. Lalu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Ulangilah!” ia mengulangi. Lalu Beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Ulangilah!” ia mengulangi. Kemudian Beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Bangkitlah karena sesungguhnya Allah telah Mengampunimu!”  (HR Hakim)

Istighfar Tujuh Puluh Kali

Diriwayatkan dari Anas bin Malik ra: Pernah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sedang dalam perjalanan. Beliau lalu bersabda: “Beristighfarlah kalian kepada Allah!” kami pun beristighfar dan Beliau lalu bersabda: “Sempurnakan hingga sampai tujuh puluh kali!” kami pun menyempurnakannya dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam lalu bersabda:

مَا مِنْ عَبْدٍ وَلاَ أَمَةٍ يَسْتَغْفِرُ اللهَ فِى يَوْمٍ سَبْعِيْنَ مَرَّةً إِلاَّ غَفَرَ اللهُ لَهُ سَبْعَمِائَةِ ذَنْبٍ , وَقَدْ خَابَ عَبْدٌ أَوْ أَمَةٌ عَمِلَ فِى يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِمِائَةِ ذَنْبٍ

Tiada sahaya lelaki dan sahaya wanita yang beristighfar dalam sehari tujuh puluh kali kecuali Allah Mengampuni tujuh ratus dosanya. Dan sungguh rugi seorang sahaya lelaki atau perempuan yang dalam sehari melakukan lebih dari  tujuh ratus dosa” (HR Ibnu Abi Dun’ya Baihaqi al Ashbihani)

Istighfar Seratus Kali

Imam Thabarani meriwayatkan dari Ibnu Umar ra. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

          مَا أَصْبَحْتُ غَدْوَةً إِلاَّ اسْتَغْفَرْتُ الله مِائَةَ مَرَّةٍ

Aku tidak memasuki waktu pagi kecuali aku beristighfar kepada Allah seratus kali”

Imam Muslim  dan Imam Ahmad meriwayatkan dari al Muzani al Agharr ra dan Imam Nasa’i dari Abu Hurairah ra. Mereka berdua berkata: Sesungguhnya Nabi shallallahu alaihi wasallam mengumpulkan orang – orang dan lalu bersabda:

          يَاأَيُّهَا النَّاسُ تُوْبُوْا إِلَى اللهِ فَإِنِّي أَتُوْبُ فِى الْيَوْمِ إِلَيْهِ مِائَةَ مَرَّةٍ

Wahai manusia, bertaubatlah kepada Allah karena sesungguhnya aku bertaubat kepadaNya dalam sehari seratus kali”

Sayyidul Istighfaar

Sayyidul Istighfar seperti disebutkan dalam Bukhari Muslim adalah:

          أَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لاَإِلهَ إِلاَّ أَنْتَ خَلَقْـتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا سْتَطَعْتُ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ

Ya Allah, Engkau Tuhanku tiada Tuhan kecuali Engkau. Engkau menciptakanku dan saya hambaMu, saya dalam janjiMu dan kesetianMu semampuku. Saya memohon perlindunganMu dari keburukan kelakuanku. Saya mengakui nikmatMu atasku dan saya mengakui dosaku. Maka ampunilah aku karena sesungguhnya tiada yang mengampuni dosa – dosa kecuali Engkau”

Dalam riwayat lain sesungguhnya Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda kepada orang yang mengeluhkan hutang dan seretnya rizki kepadanya:

          أَيْنَ أَنْتَ مِنْ سَيِّدِ اْلإِسْتِغْفَارِ , قُلْ مَا بَيْنَ طُلُوْعِ الْفَجْرِ وَصَلاَةِ الصُّبْحِ : سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيْمِ أَسْتَغْفِرُ اللهَ : مِائَةَ مَرَّةٍ

Di mana kamu dengan Sayyidul Istighfar, ucapkanlah (pada waktu) antara terbit fajar dan shalat subuh, “Subhanallah wabihamdihi subhaanallahil azhim Astaghfirullah” seratus kali”

Istighfar Azhim Milik Sayyidina Ali ra

Seorang Badui datang kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra. ia mengeluhkan kesulitan yang menimpa, harta benda yang sempit serta anggota keluarga yang banyak. Kepada Badui itu, Sayyidina Ali ra memberikan nasehat: [Tetapilah Istighfarlah karena sesungguhnya Allah berfirman: “Beristighfarlah kalian kepada Tuhan kalian karena sesungguhnya Dia Maha Pengampun…” ] tak lama kemudian lelaki itu kembali dan mengatakan: “Wahai Amirul Mukminin, saya telah banyak beristighfar tetapi tidak melihat kemudahan dari apa yang menimpa saya!” Sayyidina Ali ra berkata: “Mungkin kamu tidak bisa beristighfar!” Badui itu berkata: “Ajarilah saya!” Sayyidina Ali ra berkata: [Tuluskan niatmu, taatilah Tuhanmu dan ucapkanlah:

أَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْتَغْفِرُكَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ قَوِيَ عَلَيْهِ بَدَنِيْ بِعَافِيَتِكَ أَوْ نَالَتْهُ قُدْرَتِي بِفَضْلِ نِعْمَتِكَ أَوْ بَسَطَتْ إِلَيْهِ يَدِيْ بِسَابِغِ رِزْقِكَ أَوِ اتَّكَلْتُ فِيْهِ عِنْدَ خَوْفِي مِنْكَ عَلَى أَنَاءَتِكَ أَوْ وَثِقْتُ بِحِلْمِكَ أَوْ عَوَّلْتُ فِيْهِ عَلَى كَرَمِ عَفْـوِكَ .

Ya Allah, sesungguhnya saya memohon ampunanMu dari segala dosa yang badanku kuat atasnya lantaran kesembuhanMu, atau bisa tercapai oleh kemampuanku sebab anugerah nikmatMu, atau tergapai oleh tanganku sebab curahan rizkiMu,  atau saya pasrah begitu saja atas kelembutanmu ketika saya takut kepadaMu, atau saya percaya sepenuhnya dengan sifat bijakMu, atau saya menyandarkannya atas kemurahan maafMu.

أًللَّهُمَّ إِنِّي أَسْتَغْفِرُكَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ خُنْتُ فِيْهِ أَمَانَتِي أَوْ بَخِسْتُ فِيْهِ نَفْسِيْ أَوْ بَذَلْتُ فِيْهِ لَذَّاتِي أَوْ آثَرْتُ فِيْهِ شَهْوَتِي أَوْ سَعَيْتُ فِيْهِ  لِغَيْرِي أَوِ اسْتَغْوَيْتُ فِيْهِ مَنْ تَبِعَنِي أَوْ غَلَبْتُ فِيْهِ بِفَضْلِ حِيْلَتِيْ إِذْ أَحَلْتُ فِيْهِ عَلَيْكَ مَوْلاَيَا فَلَمْ تَغْلِبْنِي عَلَى فِعْلِي إِذْ كُنْتَ سُبْحَانَكَ كَارِهًا لِمَعْصِيَتِيْ لَكِنْ سَبَقَ عِلْمُكَ فِى اخْتِيَارِيْ وَاسْتِعْمَالِ مُرَادِي وَإِيْثَارِي فَحَمَلْتَ عَنِّي فَلَمْ تُدْخِلْنِي فِيْهِ جَبْرًا وَلَمْ تَحْمِلْنِي عَلَيْهِ قَهْرًا وَلَمْ تَظْلِمْنِي شَيْئًا يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ يَا صَاحِبِي عِنْدَ شِدَّتِي يَامُؤْنِسِي فِى وَحْدَتِي يَا حَافِظِي فِى نِعْمَتِي يَاوَلِيِّ فِى نِقْمَتِي يَا كَاشِفَ كُرْبَتِي يَا مُسْتَمِعَ دَعْوَتِي يَا رَاحِمَ عَبْرَتِي يَا مُقِيْلَ عَثْرَتِي بِالتَّحْقِيْقِ يَا رُكْنِي الْوَثِيْقُ يَا جَارِي اللَّصِيْقُ يَا مَوْلاَيَا الشَّفِيْقُ يَا رَبَّ الْبَيْتِ الْعَتِيْقِ أَخْرِجْنِي مِنْ حَلِيْقِ الْمَضِيْقِ إِلَى سَعَةِ الطَّرِيْقِ وَفَرَجٌ مِنْ عِنْدِكَ قَرِيْبٌ وَثِيْقٌ فَاكْشِفْ عَنِّي كُلَّ شِدَّةٍ وَضِيْقٍ وَاكْفِنِي مَا أُطِيْقُ وَمَا لاَ أُطِيْقُ .

“Ya Allah, sesungguhnya saya memohon ampunanMu dari segala dosa yang di dalamnya saya mengkhianati amanat, atau di dalamnya saya menipu diri sendiri, atau di dalamnya saya memberikan kelezatanku, atau mendahulukan hawa nafsuku, atau di dalamnya saya melakukan untuk orang selainku, atau di dalamnya saya menyesatkan orang yang mengikutiku,………. ,tetapi dahulu ilmuMu dalam pilihanku, penggunaan kemauanku dan pilihanku, lalu Engkau menahan diri sehingga Engkau tidak memasukkan diriku di dalamnya secara paksa, juga tidak Engkau pikulkan atasku dengan paksa serta Engkau sedikitpun juga tidak menzhalimiku duhai Dzat Paling Pengasih di antara para pengasih, duhai Temanku di kala susahku, duhai Penghiburku di kesendirianku, duhai Penjagaku dalam nikmatku, duhai Pembelaku dalam siksaku, duhai Penghilang dukaku, duhai Pendengar do’aku, duhai Pengasih dalam tangisanku, duhai Pemaaf kesalahanku, dengan senyatanya duhai sandaran kokohku, duhai tetangga dekatku, duhai majikanku yang pengasih, duhai Tuhan al Bait al Atiq, keluarkanlah daku dari lingkaran kesempitan kepada keluasan jalan. Jalan keluar dari sisiMu begitu dekat, maka bukalah dari segala kesedihan dan kesempitan dan cukupkanlah daku dalam apa yang saya mampu dan apa yang saya tidak mampu.  

          أَللَّهُمَّ فَرِّج عَنِّي كُلَّ هَمٍّ وَغَمٍّ وَأَخْرِجْنِيْ مِنْ حُزْنٍ وَكَرَبٍ يَافَارِجَ الْهَمِّ وَيَاكَاشِفَ الْغَمِّ يَامُنْـزِلَ الْقُطَرِ يَا مُجِيْبَ دَعْـوَةِ الْمُضْطَرِّ يَا رَحْمنَ الدُّنْـيَا وَاْلآخِرَةِ وَرَحِيْمَهُمَا صَلِّ خَيْرَتِكَ مِنْ خَلْقِكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّم وَآلِهِ الطَّيِّـبِيْنَ الطَّاهِرِيْنَ وَفَرِّجْ عَنِّي مَا ضَاقَ بِهِ صَدْرِي وعيل مِنْهُ صَبْرِيْ وَقَلَّتْ فِيْهِ حِيْلَتِيْ وَضَعُفَتْ لَهُ قُوَّتِي يَا كَاشِفَ كُلِّ ضُرٍّ وَبَلِـيَّةٍ وَيَاعَالِمَ كُلِّ سِـرٍّ وَخَفِـيَّةٍ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ أُفَوِّضُ أَمْرِي إِلَى اللهِ إِنَّ اللهَ بَصِيْرٌ بِالْعِبَادِ وَمَا تَوْفِيْقِيْ إِلاَّ بِاللهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ .

“Ya Allah, hilangkanlah dariku segala sedih dan duka. Keluarkan saya dari sedih dan duka duhai Dzat Penghilang kesedihan Pembuka kedukaan, duhai Dzat yang menurunkan tetesan – tetesan hujan, duhai Dzat pengkabul do’a orang yang kesusahan, duhai Maha Pengasih Penyayang dunia dan akhirat berikanlah shalawat kepada pilihanMu dari makhlukMu Muhammad shallallahu alaihi wasallam dan keluarganya yang wangi lagi suci. Hilangkan dariku segala yang menyempitkan dadaku, yang memusnahkan kesabaranku,membuatku tidak bisa banyak berbuat, yang melemahkan kekuatanku. Duhai Dzat Penghilang ujian dan bencana, duhai Dzat Maha mengetahui segala rahasia dan samar, duhai Dzat Maha Pengasih di antara para pengasih, saya memasrahkan urusanku kepada Allah sesungguhnya Allah Maha Melihat para hambaNya dan tiada pertolonganku kecuali dari Allah. Aku berpasrah kepadaNya. Dia Tuhan Arasy yang agung.

Badui itu berkata: “Beberapa kali aku beristighfar dengan do’a tersebut lalu Allah pun menghilangkan dariku segala kesedihan dan kesempitan. Dan Dia juga melapangkan rizkiku dan menghilangkan ujian dariku”

 Bersambung.

About shofwah