Madza fi Sya’ban: Dosa-Dosa Penghalang Ampunan

bulan-syaban1

Kali ini pembahasan Madza fi Sya’ban, karya Abuya Sayyid Muhammad Al-Maliki tentang Dosa-dosa Penghalang Ampunan setelah artikel sebelumnya membahas Dalil-dalil Nash pengamalan surat dan ayat Al-Qur’an. Selamat menyimak.

Wajib bagi muslim menjauhi dosa-dosa yang menghalangi dirinya dari ampunan, terkabulnya do’a pada malam itu (Nishfu Sya’ban). Diriwayatkan bahwa dosa-dosa itu adalah Syirik, Membunuh dan berzina. Ketiganya adalah dosa terbesar di sisi Allah seperti dalam hadits Ibnu Mas’ud yang disepakati keshahihannya bahwa ia bertanya:

أَيُّ الذَّنْبِ أَعْظَمُ؟ قَالَ : “أَنْ تَجْعَلَ ِللهِ نِـدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ” قَالَ : ثُمَّ أَيُّ؟ قال : ” أَنْ تَقْتُلَ وَلَدَكَ خَشْيَةَ أَنْ يَطْعَمَ مَعَكَ” قاَلَ : ثُمَّ أَيُّ ؟ قَالَ : ” أَنْ تُزَانِيَ حَلِيْلَةَ جَارِكَ” فَأَنْزَلَ الله تَصْدِيْقَ ذَلِكَ [وَالَّذِيْنَ لاَ يَدْعُوْنَ مَعَ الله إِلـهًا آخَرَ وَلاَ يَقْتُلُوْنَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ الله إِلاَّ بِالْحَقِّ وَلاَ يَزْنُوْنَ …]

“Dosa manakah yang lebih besar?” Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Kamu menjadikan sekutu bagi Allah padahal Dia telah Menciptakanmu”  Ibnu Mas’ud bertanya, “Lalu apa?” Beliau bersabda, “Kamu membunuh anakmu karena khawatir ia makan bersamamu” Ibnu Mas’ud bertanya, “Lalu apa?” Beliau bersabda, “Kamu berzina dengan isteri tetanggamu” Allah kemudian menurunkan pembenaran hal itu: Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina,..,QS al Furqan:68. (HR Muslim)

Sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam: “Kamu berzina dengan isteri tetanggamu”  artinya berzina dengan isteri tetangga atas kerelaan si wanita di mana dalam hal ini ada perzinaan, menjadikan keretakan hubungan si wanita dengan suaminya serta berusaha memalingkan hati si wanita dari suaminya. Ini sangatlah buruk dan jika dengan isteri tetangga maka lebih buruk lagi dan lebih besar dosanya karena t semestinya ia harus membela tetangga dan melindungi isterinya,  mengamankan tetangga dari keburukan-keburukannya serta harus beroleh ketenangan darinya. Sungguh telah diperintahkan agar seseorang memuliakan dan berbuat baik kepada tetangga. Jika semua itu dibalas dengan menzinahi isterinya dan meretakkan hubungan di antara mereka maka itu sangatlah buruk.

Firman Allah, “dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar “ maknanya: Jangan membunuh jiwa yang dilindungi kecuali yang memang pada dasarnya berhak dibunuh.

Dan di antara dosa-dosa yang menjadi penghalang ampunan adalah kebencian (Syahna’) yakni kedengkian seorang muslim kepada saudaranya atas dasar hawa nafsu. Ini juga menjadi penghalang ampunan  pada kebanyakan waktu-waktu ampunan dan kasih sayang sebagaimana dalam shahih Muslim:

تُفْتَحُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ يَوْمَ اْلإِثْنَيْنِ وَالْخَمِيْسِ فَيُغْـفَرُ لِكُلِّ عَبْدٍ لاَ يُشْرِكُ بِاللهِ شَيْئًا إِلاَّ رَجُلاً كَانَ بَيْـنَهُ وَبَيْنَ أَخِيْهِ شَحْنَاءُ فقال : أَنْظِرُوْا هَذيْنِ حَتَّي يَصْطَلِحَا

Pintu – pintu surga dibuka pada hari senin dan kamis lalu setiap hamba yang tidak menyekutukan sesuatu apapun dengan Allah mendapat ampunan kecuali lelaki yang antaranya dan saudarantya ada kebencian. Dia lalu berfirman: “Tangguhkanlah kedua orang ini sampai mereka berdamai”

Semestinya dosa-dosa ini wajib dijauhi dan diri harus terjaga dalam setiap waktu; baik di Sya’ban maupun selain Sya’ban sebagaimana dalam hadits yang warid terkait masalah ini. Kendati begitu peringatan semakin dikuatkan pada waktu – waktu utama penuh berkah seperti halnya Ramadhan, bulan-bulan mulia dan malam-malam penuh berkah. Telah disebutkan sebagian hadits yang menyatakan bahwa musyrik, musyahin (pendengki), pemutus sanak kerabat, orang yang durhaka kepada kedua orang tua, orang yang menjuntaikan pakaian, selalu minum arak, orang yang iri dan dengki, tukang sihir, dan pezina adalah orang-orang yang terhalang dari berkah malam ini (Nishfu Sya’ban). Karena itulah seyogyanya manusia merasakan dan meresapi keagungan malam ini dan melihat anugerah Allah di dalamnya dengan pandangan memuliakan dan mengagungkan, pandangan adab dan syukur. Ini semua menuntut dirinya berpegang teguh dengan kebaikan dan berbuat Ihsan dalam beramal dan menjauhi kemungkaran dan haram pada setiap waktu agar ia tidak menjadi orang yang sedikit punya malu kepada Allah ketika bermuamalah denganNya. Hendaknya ia memohon taufiq dan hidayah kepada Allah untuk dirinya guna menuju jalan yang lurus.

Inilah ciri khas orang mulia (Kariim), berbeda dengan orang yang hina (La’iim) yang justru semakin nakal, berpaling, semakin lupa dan meremehkan ketika kemurahan dan kemaafan bertambah. Adapun orang mulia maka sungguh tidak bertambah kecuali semakin malu dan menyesal sebagaimana dalam syair:

إِذَا أَنْتَ أَكْرَمْتَ الْكَرِيْمَ مَلَكْـتَهُ       وَإِنْ أَنْتَ أَكْرَمْتَ الَّلئِيْمَ تَمَرَّدَا

Jika kamu memuliakan orang mulia maka kamu bisa memilikinya

Dan jika kamu memuliakan orang hina maka ia semakin nakal

Bersambung.

 

 

About shofwah