Madza fi Sya’ban: Laporan Amal

bulansyaban

Pada artikel sebelumnya dijelaskan perpindahan tahwil (qiblat). Kali ini pembahasan tentang laporan amal, selamat mengikuti.

Laporan Amal

Di antara keistimewaan bulan Sya’ban yang sudah dikenal adalah laporan amal (Raf’ul Amal). Tepatnya laporang terbesar dan terluas. Dalam hadits dari Usamah bin Zaid ra disebutkan: Ia berkata: Aku bertanya: “Wahai Rasulullah, saya tidak pernah melihat engkau puasa dalam bulan – bulan seperti engkau berpuasa di bulan Sya’ban?” Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

          ذَاكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبَ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيْهِ اْلأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

Itulah bulan yang dilupakan manusia, antara Rajab dan Ramadhan. Itulah bulan dimana amal – amal diangkat (dilaporkan) kepada Tuhan semesta alam dan aku suka jika amalku diangkat dalam keadaan aku sedang berpuasa” (HR Nasai)

Laporan di Siang Hari dan Laporan di Malam Hari

Dalam Shahih Muslim dari Abu Musa al Asy’ari ra. Ia berkata:

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berdiri di antara kami dengan lima kalimat. Selanjutnya Beliau bersabda:

           إِنَّ اللهَ تَعَالَى لاَ يَنَامُ وَلاَ يَنْبَغِي لَهُ أَنْ يَنَامَ يَخْفَضُ الْقِسْطَ وَيَرْفَـعُهُ يُرْفَعُ إِلَيْهِ عَمَلُ اللَّيْلِ قَبْلَ عَمَلِ النَّهَارِ وَعَمَلُ النَّهَارِ قَبْلَ عَمَلِ اللَّيْلِ حِجَابُهُ النُّوْرُ لَوْ كَشَفَهُ َلأَحْرَقَتْ سَبَحَاتُ وَجْهِهِ مَا انْتَهَى إِلَيْهِ بَصَرُهُ مِنْ خَلْقِهِ

Sesungguhnya Allah ta’alaa tidak tidur dan tidak semestinya Dia tidur. Dia merendahkan dan meninggikan timbangan. Diangkat kepadaNya amalan malam sebelum amalan siang, dan amalan siang sebelum amalan malam. HijabNya adalah cahaya. Andai Dia Membukanya niscaya kegungan wajahNya akan membakar sejauh pandanganNya dari ciptaanNya”

Al Allamah al Munawi rahimahullah berkata:

[Maksud (laporan dalam hadits ini) adalah: Diangkat (dilaporkan) kepadaNya amalan siang pada permulaan malam setelahnya dan amalan malam pada permulaan siang setelahnya. Ini karena para malaikat penjaga (Hafazhah)  naik (ke langit) dengan membawa amalan – amalan malam  – setelah malam habis – pada permulaan siang dan mereka naik membawa amalan – amalan siang – setelah siang habis – pada permulaan malam].

Dengan uraian ini, Imam al Munawi merujuk pada hadits dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

          يَتَعَاقَبُوْنَ – يَتَـنَاوَبُوْنَ – فِيْكُمْ مَلاَئِكَةٌ بِاللَّيْلِ وَمَلاَئِكَةٌ باِلنَّهَارِ وَيَجْـتَمِعُوْنَ فِى صَلاَةِ الْفَجْرِ وَصَلاَةِ الْعَصْرِ  ثُمَّ يَعْرُجُ الَّذِيْنَ بَاتُوْا فِيْكُمْ  فَيَسْأَلُهُمْ رَبُّهُمْ _ وَهُوَ أَعْلَمُ بِهِمْ _ كَيْفَ تَرَكْـتُمْ عِبَادِيْ ؟ فَيَقُوْلُوْنَ : تَرَكْـنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّوْنَ وَآتَيْـنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّوْنَ

Malaikat malam malaikat siang saling bergantian dalam (menjaga) diri kalian. Mereka bertemu dalam shalat fajar (subuh) dan shalat ashar. Kemudian malaikat yang menginap bersama kalian naik dan lalu ditanya oleh Tuhan mereka – Dia lebih Mengetahui daripada mereka – : “Bagaimanakah kalian meninggalkan para hambaKu?” Mereka menjawab: “Kami meninggalkan mereka saat mereka sedang shalat dan kam datang kepada mereka saat mereka sedang shalat” (HR Bukhari Muslim)

Hadits ini – seperti dikatakan oleh  al Mundzuri –  juga diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam shahihnya dengan teks dalam versi salah satu riwayat:

تَجْتَمِعُ مَلاَئِكَةُ اللَّيْلِ وَمَلاَئِكَةُ النَّهَارِ فِى صَلاَةِ الْفَجْرِ وَصَلاَةِ الْعَصْرِ فَيَجْتَمِعُوْنَ فِى صَلاَةِ الْفَجْرِ  فَتَصْعَدُ مَلاَئِكَةُ اللَّيْلِ وَتَبِـيْتُ مَلاَئِكَةُ النَّهَارِ . وَيَجْتَمِعُوْنَ فِى صَلاَةِ الْعَصْرِ فَتَصْعَدُ مَلاَئِكَةُ النَّهَارِ وَتَبِيْتُ مَلاَئِكَةُ اللَّيْلِ فَيَسْأَلُهُمْ رَبُّهُمْ : كَيْفَ تَرَكْـتُمْ عِبَادِيْ ؟ فَيَقُوْلُوْنَ : أَتَيْـنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّوْنَ وَتَرَكْـنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّوْنَ فَاغْفِرْ لَهُمْ يَوْمَ الدِّيْنِ

Malaikat malam dan malaikat siang berkumpul dalam shalat Subuh dan shalat Ashar lalu mereka berkumupul dalam shalat Subuh dan malaikat malam –pun naik dan malaikat siang menginap (menetap). Mereka lalu berkumpul dalam shalat Ashar dan lalu malikat siang naik dan malaikat malam menginap. Tuhan mereka lalu bertanya: “Bagaimana kalian meninggalkan para hambaKu?” mereka menjawab: “Kami meninggalkan mereka saat mereka sedang shalat dan kami datang kepada mereka saat mereka sedang shalat. Maka ampunilah mereka pada hari pembalasan!”

Wahai orang beriman, maka mengertilah dengan pasti bahwa bersama anda ada malaikat malam dan malaikat siang yang senantiasa mengawasi amal perbuatan anda dan lalu melaporkannya kepada Tuhan Maha Agung Maha Mulia.

Laporan Secara Langsung

Dari Abdullah bin Saib ra. ia berkata:

Sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam shalat empat rakaat setelah matahari tergelincirt (Zawal) sebelum melakukan shalat fardgu Zhuhur. Selanjutnya Beliau bersabda:

          إِنَّهَا سَاعَةٌ تُفْتَحُ فِيْـهَا أَبْوَابُ السَّمَاءِ فَأُحِبُّ أَنْ يَصْعَدَ لِيْ فِيْهَا عَمَلٌ صَالِحٌ

Sesungguhnya itu adalah saat pintu – pintu langit terbuka, maka aku ingin pada waktu itu ada amal shalehku yang naik” (HR Turmudzi – Ahmad)

Abu Ayyub al Anshari ra menceritakan dari Nabi shallallahu alaihi wasallam yang bersabda:

          أَرْبَعٌ قَبْلَ الظُّهْرِ لَيْسَ فِيْهِنَّ تَسْلِيْمٌ تُفْتَحُ لَهُنَّ أَبْوَابُ السَّمَاءِ

Empat rakaat sebelum zhuhur yang tiada salam di dalamnya, dibuka untuknya pintu – pintu langit” (al Mundziri berkata: HR Abu Dawud – Ibnu Majah dan dalam sanad keduanya ada kemungkinan untuk dihukumi Hasan.)

Imam Thabarani dalam al kabir  dan al ausath juga meriwayatkan (dari Abu Ayyub ra. Pent) dengan teks seperti berikut:

Ketika Rasulullah bertempat tinggal di tempatku – ketika awal kedatangan di Madinah – maka aku menyaksikan Beliau shallallahu alaihi wasallam  melanggengkan empat – shalat empat rakaat – sebelum zhuhut dan Beliau bersabda:

            إِنَّهُ إِذَا زَالَتِ الشَّمْسُ فُتِحَتْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ فَلاَ يُغْلَقُ فِيْهَا بَابٌ حَتَّي تُصَلَّى الظُّهْرُ فَأَنَا أُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ لِي فِى تِلْكَ السَّاعَةِ خَيْرٌ

Sesungguhnya saat matahari tergelincir maka pinti – pintu langit dibuka dan lalu tidak satu pintu-pun ditutup sehingga shalat zhuhur dilaksanakan. Maka aku suka ada kebaikanku – amal shalehku – yang diangkat pada waktu itu”

Abdullah berkata:

Maka semestinya seorang muslim betul – betul peduli dan memperhatikan shalat sunnah qabliyyah zhuhut menyusul waktu zawal. Hendak ia menggunakan waktu tersebut dengan baik untuk berdo’a yang sangat mungkin akan dikabulkan karena pintu – pintu langit terbuka waktu itu. Tidak semestinya orang beriman  melalaikan dan justru sibuk dengan dunia yang sirna serta menyia – nyiakan kebaikan, do’a, hembusan rahmat dan berkah yang bermanfaat baginya di dalam kehidupan dunia dan setelah kematian.

Laporan Mingguan

Abu Hurairah ra berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

          تُعْرَضُ اْلأَعْمَالُ عَلَى اللهِ تَعَالَى فِى كُلِّ يَوْمِ خَمِيْسٍ وَاثْنَيْنِ فَيَغْفِرُ اللهُ لِكُلِّ امْرِئٍ لاَ يُشْرِكُ بِالله شَيْـئًا إِلاَّ مَنْ كَانَ بَيْـنَهُ وَبَيْنَ أَخِيْـهِ شَحْنَاءُ فَيَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى : اتْرُكُوْا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا

Amal dilaporkan kepada Allah ta’ala setiap kamis dan senin. Allah lalu mengampuni setiap orang yang tidak menyekutukan sesuatu dengan Allah kecuali orang yang antara dirinya dan saudaranya ada kebencian. Allah pun berfirman: “Biarkanlah kedua orang ini sampai mereka berdamai!”(HR Muslim Turmudzi)

Dalam riwayat Imam Muslim disebutkan:

          تُفْتَحُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ يَوْمَ اْلإِثْنَيْنِ وَالْخَمِيْسِ فَيُغْـفَرُ لِكُلِّ عَبْدٍ لاَ يُشْرِكُ بِاللهِ شَيْئًا إِلاَّ رَجُلاً كَانَ بَيْـنَهُ وَبَيْنَ أَخِيْهِ شَحْنَاءُ

Pintu – pintu surga dibuka pada hari senin dan kamis lalu setiap hamba yang tidak menyekutukan sesuatu apapun dengan Allah mendapat ampunan kecuali lelaki yang antaranya dan saudarantya ada kebencian”

Dari Abu Hurairah ra dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Beliau bersabda:

          تُعْرَضُ اْلأَعْمَالُ يَوْمَ اْلإِثْنَيْنِ وَالْخَمِيْسِ فَأُحِبُّ أَنْ يُعْرَضَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

Amal – amal dilaporkan pada hari senin dan kamis maka aku suka bila amalku dilaporkan saat aku dalam keadaan berpusa”(HR Turmudzi)

Usamah bin Zaid ra berkata: Aku bertanya: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau berpuasa dan hampir tidak pernah berbuka, engkau berbuka dan hampir tidak pernah berpuasa – berpuasa sunnah – kecuali dua hari jika masuk dalam puasamu[1], dan jika tidak maka (secara khusus) engkau berpuasa di dalamnya?” Beliau bertanya: “Hari manakah itu?” aku menjawab: “Hari senin dan kamis”, Beliau lalu bersabda:

          ذَلِكَ يَوْمَانِ تُعْرَضُ فِيْهِمَا اْلأَعْمَالُ عَلَى رَبِّ الْعَالَمِيْنَ فَأُحِبُّ أَنْ يُعْرَضَ عَمَلِيْ وَأَنَا صَائِمٌ

Itu adalah dua hari di mana amal – amal dilaporkan kepada Tuhan semesta alam, maka aku suka jika amalku dilaporkan dalam keadaan aku sedang berpuasa”

Dari Jabir ra sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

          تُعْرَضُ اْلأَعْمَالُ يَوْمَ اْلإِثْنَيْنِ وَالْخَمِيْسِ فَمِنْ مُسْتَغْفِرٍ فَيُغْفَرُ لَهُ وَمِنْ تَائِبٍ فَيُتَابُ عَلَيْهِ وَيَذَرُ أَهْلَ الضَّغَائِنِ بِضَغَائِنِهِمْ حَتَّي يَتُوْبُوْا

Amal – amal dilaporkan pada hari senin dan kamis, lalu jika ada yang memohon ampunan maka ia diampuni, jika ada yang bertaubat maka taubatnya diterima, dan Dia membiarkan para pemilik kebencian – kebencian dengan kebencian – kebencian mereka sampai mereka bertaubat”

Dari hadfits – hadits tersebut seorang muslim menjadi mengerti akan keutamaan dua hari ini; senin dan kamis yang karena itu hendaknya ia menjauhi kedengkian dan kebencian agar  amal – amal keshalehannya tidak terhalang untuk dinaikkan (dilaporkan). Pada hari itu hendaknya ia memperbanyak amal – amal shaleh dan ucapan yang baik sebab hari – hari memiliki hukum – hukum dan keistimewaan – keistimewaan sendiri. Sungguh hari – hari adalah laksana bejana – bejana bagi yang berlaku di dalamnya. Wahai orang yang berakal, jangan penuhi bejana – bejana anda kecuali dengan sesuatu yang mendekatkanmu kepada Tuhanmu azza wajalla. Kelak pasti akan datang kepadamu hari di mana bejana – bejana itu terbuka setelah ia tertutup saat kematianmu. Kelak akan menampak dan muncrat semua yang terkandung dalam bejana – bejana itu yang berupa ucapan dan amal perbuatanmu. Jika baik maka akan baunya akan semerbak dan wanginya akan menyebar dan kamu akan senang, gembira, merasa aman dan berbahagia. Sebaliknya jika jelek maka akan menyebar bau tidak sedap dan kegelepannya akan menyelimutimu dan kamu pasti mendapat penghinaan dalam perkumpulan besar tersebut sehingga kamu merasa sedih. Allah berfirman:

          ذَلِكَ يَوْمٌ مَجْمُوْعٌ لَهُ النَّاسُ وَذَلِكَ يَوْمٌ مَشْهُوْدٌ

Itulah hari di mana karenanya manusia dikumpulkan. Itulah hari yang disaksikan” QS Hud: 103.[2]

[1] Maksudnya jika kebetulan bertepatan dengan puasamu (ramadhan atau yang lain). bila tidak bertepatan maka engkau secara khusus berpuasa di dalam keduanya

[2] Demikian ringkasan dari buku Shu’ud al Aqwal wa Raf’il A’mal ila al Kabir al Muta’aal milik Syekh Abdullah Sirajuddin

Bersambung.

About shofwah