Madza fi Sya’ban, Pengantar

abuya-maliki

Tidak ada salahnya kami akan menampilkan buah karya Abuya As Sayyid Muhammad Al-Maliki Al-Hasani, Madza fi Sya’ban (Ada apa dibulan Sya’ban) dalam bentuk terjamah dalam bahasa Indonesia, walaupun bulan Sya’ban masih lama berselang.

Kami akan mempostingkannya secara berkala, untuk itu ikuti terus website kami.

Admin.

Abuya As Sayyid Muhammad Al-Maliki Al-Hasani memberi pengantar dalam buah karyanya, Madza fi Sya’ban, sebagai berikut:

Bismillahahirrahmaanirrahiim 

Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Shalawat salam senantiasa tercurah atas utusan paling mulia, junjungan kita Nabi Muhammad berserta keluarga dan sahabat seluruhnya.

Bulan Sya’ban termasuk dalam jajaran bulan – bulan agung dan masa – masa yang mulia. Bulan yang keberkahannya sudah dikenal. Kebaikan – kebaikannya sempurna. Taubat di dalamnya adalah harta rampasan indah dan terbesar. Ketaatan di sana merupakan harta perdagangan yang sangat menguntungkan. Bulan ini memang dijadikan oleh Allah sebagai simpanan masa dan memberikan jaminan keamanan bagi orang yang bertaubat di dalamnya. Barang siapa di sini melatih dirinya bersungguh – sungguh dalam ibadah (ijtihad) maka pada bulan Ramadhan ia akan mendapat keberuntungan berupa kebiasaan yang baik (Husnul I’tiyad). Disebut Sya’ban karena dari sanalah muncul banyak cabang kebaikan. Atau dari kata Sy’aa Baana  (tersebar dan jelas). Atau dari Syi’ib, jalan yang baik di pegunungan. Atau dari Sya’ab, tambalan. Maksudnya, pada bulan ini Allah menambal hati – hati yang kecewa.

Ini adalah Risalah yang kami tulis seputar bulan Sya’ban dan apa yang ada di dalamnya? Kenapa kaum muslimin merayakan dan berusaha maksimal untuk menghadap kepada Allah dengan taubat, ibadah dan  kebaikan lain dalam aneka ragam dan warnanya. Di bulan ini mereka menghidupkan hati dengan berdzikir kepada Allah, berziarah kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan meramaikan Baitullah  dengan Shalat, Thawaf dan Umrah. Tetapi sebelum masuk dalam inti pembahasan, sebelumnya kami cantumkan prolog penting yang bisa menjadi pembuka masalah ini.

Di antara kaidah yang telah ditetapkan para ahli ilmu bahwa suatu masa bisa menjadi mulia oleh peristiwa – peristiwa yang terjadi di dalamnya. Inilah nilai standar (Qiimah I’tibariyyah) suatu masa. Nilai peristiwa menentukan nilai suatu masa. Dan keagungan suatu masa juga tergantung keagungan peristiwa di dalamnya. Dan semakin suatu peristiwa kuat mengikat dan memberi pengaruh besar kepada manusia maka keterikatan mereka dengan masa di mana peristiwa itu terjadi juga semakin kuat. Dari sini dapat dimengerti dengan jelas maksud sebenarnya dalam masalah ini adalah mengikat umat dengan sejarah. Memperdalam pemahaman naluri dan perasaan beragama mereka dengan peristiwa dan kejadian yang bernilai religius.

Memang benar, orang berbeda dalam cara mengajak khalayak menuju hakikat –  hakikat ini. Artinya mereka tidak pernah sepakat untuk mengikuti satu jalan yang mengantarkan (mereka kepada tujuan), akan tetapi  menurutku tujuan pokok mereka sama sekali tidak berbeda. Ketika kita mendakwahkan agar mendekatkan umat kepada sejarah dengan mamanfaatkan kesempatan – kesempatan dan perayaan – perayaan maka  pada esensinya kita mengajak mereka kepada hakikat yang jernih, aqidah yang benar, jalan yang lurus,  dan fithrah yang suci yang seluruhnya merupakan sejarah dan kebanggan kita.

Dari kaidah ini kita berangkat menuju segala kebaikan dan kebenaran di mana semua itu, atas izin Allah, bisa mendapat penerimaan (Qabul) karena dengan kaidah ini kebaikan dan kebenaran tersebut menjadi tersebar. Semoga kita bisa menjarah kesempatan masa yang di dalamnya hati begitu semangat mengenang kembali kenangan-kenangan dan kemudian mengajak akal, hati dan perasaan untuk menoleh ke belakang, karena merindukan sejarah, untuk melihat yang telah lewat agar pelajaran didapat. Itulah pelajaran ilmiah di mana universitas dengan para pengajar dan ceramah-ceramahnya, madrasah dengan metode-metode dan kurikulumnya tidak akan pernah mampu mengalihkan manusia agar hidup dan memahaminya dengan hati, akal dan perasaan.

Ketika merayakan Maulid Nabawi, merayakan Hijrah, Isra’ Mi’raj dan Bulan Sya’ban, pada hakikatnya kita mengajak manusia agar menyambung akal, hati dan perasaan mereka dengan hakikat-hakikat dan kejadian-kejadian yang memenuhi bentangan masa. Jadi bukan semata-mata mengagungkan perayaan tersebut. Sungguh yang diagungkan hanyalah Allah, Dzat Pembuat masa dan tempat seperti layaknya seorang hamba mengagungkan Tuhan Penciptanya dan pengagungan terhadap orang yang menjadi sebab terjadinya peristiwa-peristiwa tersebut, orang yang menjalani dan terkait langsung dengan peristiwa-peristiwa tersebut, pengagungan sang pecinta kepada manusia yang dicintainya, dan pengagungan kepada pemilik keutamaan, manusia yang dipilih Allah agar menjadi pelaku peristiwa-peristiwa tersebut.

Sesungguhnya saya heran dengan akal-akal yang tertutup yang melupakan pelaku peristiwa yang  sebab dirinya, karenanya dan beserta dirinyalah peristiwa-peristiwa itu terjadi, dianggap penting dan mendapatkan perhatian. Hal demikian tidak diragukan lagi adalah Ainul Bid’ah,  bid’ah yang nyata dan bahkan kebodohan yang sempurna serta cara pandang picik.

Kita tidak memuliakan masa semata-mata karena masa, juga tidak memuliakan tempat semata-mata karena tempat, sebab hal ini menurut kami adalah syirik. Akan tetapi kita melihat sesuatu yang lebih mulia dari itu, lebih besar dan lebih agung. Kita juga tidak memuliakan bentuk fisik seorang pribadi, kami hanya melihat maqam dan keagungannya, derajat dan kemuliaannya, cinta dan dan yang dicintainya. Apakah ini semua dosa? Maha Suci Engkau ya Allah, ini adalah kedustaan besar.

Washallallahu wasallama ala khaatami rusulihi sayyidinaa Muhammad wa alaa aalihi washahbihi wasallam ajma’in.

Bersambung.

Tags:

About shofwah