Perpindahan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sejak Masa Adam dalam Sulbi Para Nabi

nabawi-1

Abuya As Sayyid Muhammad bin Alawy Al-Maliki Al-Hasani menulis dalam kitab Dzakhair Muhammadiyah, tentang perpindahan sulbi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

Al-Hafidz Abdurrahman bin Daida’ asy-Syaibani, penyusun Jamiul Ushul meriwayatkan. Katanya: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Dulu aku berwujud nur di hadapan Allah azza wa jalla, 2000 tahun sebelum diciptakannya Adam. Nur itu selalu bertasbih kepada Allah. Dan para malaikat turut bertasbih dengan tasbihnya. Ketika Allah menciptakan Adam, nur itu dititipkan-Nya pada tanah liat asal kejadian Adam.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda melanjutkan, “Allah azza wa jalla lalu menurunkan aku ke bumi dalam punggung Adam. Allah membawaku dalam kapal pada tulang sulbi Nuh, dan menjadikanku pada tulang sulbi al-Khalil, Ibrahim, kala dia dilemparkan ke dalam api. Allah azza wa jalla tidak henti-hentinya memindahkan aku dari sulbi-sulbi yang suci kepada rahim-rahim yang suci dan megah, hingga Allah mengeluarkan aku melalui kedua orangtuaku. Keduanya tidak pernah berbuat lacur sama sekali.”

Abbas ra. memuji Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam gubahannya,

مِنْ قَبْلِهَا طِبْتَ فِى الظِّلاَلِ وَفِي = مُسْتَوْدَعٍ حَيْثُ يُخْصَفُ الْوَرَقُ

ثُمَّ هَبَطْتَ الْبِلاَدَ لاَ بَشَرٌ أَنْـ = ـتَ وَلاَ مُضْغَةٌ وَلاَ عَلَقُ

بَلْ نُطْفَةٌ تَرْكَبُ السَّفِيْنَ وَقَدْ = أَلْجَمَ نَسْرًا وَأَهْلَهُ الْغَرَقُ

تُنْقَلُ مِنْ صُلْبٍ إِلَى رَحِمٍ = إِذَا مَضَى عَالَمٌ بَدَا طَبَقُ

وَوَرَدْتَ نَارَ الْخَلِيْلِ مُسْتَتِرًا = فِى صُلْبِهِ أَنْتَ : كَيْفَ يَحْتَرِقُ؟

حَتَّى احْتَوَى بَيْتَكَ الْمُهَيْمِنُ مِنْ = خِنْدِفٍ عُِلْيَاءَ تَحْتَهَا النُّطُقُ

Sejak sebelum lahir, engkau hidup bahagia dalam naungan (surga) dan dalam rahim (Ibu Hawa) yang tertutupi daun-daun surga.

Kemudian engkau turun ke bumi. Bukan sebagai manusia, bukan segumpal darah ataupun daging,

tetapi nutfah (setetes air) di perahu (Nuh) yang membuat Nasr dan keluarganya terhalang (selamat) dari banjir.

Engkau berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya. Jika kurun suatu generasi habis, muncul kurun generasi berikutnya.

Engkau sampai di api al-Khalil (Ibrahim) secara tersembunyi di sulbinya. Bagaimana ia bisa terbakar?!

Hingga berlabuhlah engkau, wahai Nabi yang diberkahi, di Khindif (isteri Ilyas bin Mudlar; nenek moyang Nabi), nasab terbaik yang mengalahkan semua bangsawan.

Al-Hafidz Ibnu Abdil Barr menuturkan bait-bait ini pada biografi Khuraim bin Aus. Katanya: Aku hijrah menuju Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, hingga aku tiba padanya sepulangnya dari Tabuk. Aku mendengar Abbas, sang paman, berkata, “Ya Rasulullah, aku ingin memujimu!” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya, “Silahkan. Gubahlah. Semoga Allah tidak merontokkan gigimu.” Abbas lalu tampak menggubah, seraya (perawi) menuturkan bait-bait, kemudian berkata, “Bait-bait ini telah diriwayatkan oleh Jarir bin Aus, saudara Khuraim bin Aus, seperti diriwayatkan oleh Khuraim.”

Demikian disebut dalam al-Istiab jilid 3 hal. 340.

Pencatatnya –semoga Allah memberikan pengampunan padanya, berkata, “Dan Jarir ini bersama saudaranya, yaitu Khuraim, tiba pada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam” Ibnu Abdil Barr berkata, “Jarir bin Aus ath-Thusi hijrah menuju kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dia sampai kepadanya sepulangnya dari Tabuk. Dia lalu masuk Islam. Jarir meriwayatkan syair Abbas bin Abdul Mutthalib yang dibuatnya menyanjung Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam Kemudian ia berkata, “Khuraim dan Jarir datang bersama Ali kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan keduanya meriwayatkan syairnya Abbas.” (Al-Istiab jilid 3 hal. 340).

Pencatatnya –semoga Allah memberikan pengampunan padanya, berkata, “Bait-bait ini dituturkan pula oleh al-Hafidz Ibnu Hajar dalam al-Ishabah dalam biografi Khuraim, seraya berkata, “Bait-bait ini diriwayatkan oleh Ibnu Khaitsamah, al-Bazzar, dan Ibnu Syahin.” (Jilid 1 hal. 433).

Pencatatnya –semoga Allah memberikan pengampunan padanya, berkata, “Kemudian aku mendapati faedah yang istimewa, yaitu bahwa al-Hakim meriwayatkan juga dalam kitab al-Mustadrak bait-bait ini dari Khuraim, dan adz-Dzahabi mengakuinya (mengokohkannya), sementara ia (adz-Dzahabi) dikenal keras dan suka mencari-cari kesalahan, lalu berkata, “Riwayatnya orang-orang baduwi dari ayah-ayah mereka. Dan orang-orang seperti mereka tidak akan berdusta.”

Demikian diterangkan dalam al-Mustadrak dan ringkasannya jilid 3 hal. 337.

Bait-bait ini dituturkan juga oleh al-Hafidz Ibnu Katsir dalam as-Sirah jili 1 hal. 195 dari Abus Sakan Zakariya ath-Thai, dari Zukhar bin Hashin, dari kakeknya, Hamid bin Minhab. Katanya: Kakekku, Khuraim bin Aus, berkata: Aku hijrah menuju Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu aku mendengar Abbas, sang paman, berkata, “Ya Rasulullah, aku ingin memujimu!” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya, “Ucapkanlah. Semoga Allah tidak merontokkan gigimu.” Abbas lalu tampak menggubah… Katanya: Syair ini diriwayatkan juga milik Hassan bin Tsabit. Namun, yang terpelihara adalah baiot-bait ini gubahan Abbas.

Dan ada keterangan yang menguatkan proses perpindahan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. ini dari Ibnu Abbas ra. dalam menafsirkan firman Allah ta’ala dalam surat asy-Syuara’,

وَتَقَلُّبَكَ فِى السَّاجِدِيْنَ

Dan perubahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud. (Q.S. asy-Syuaraa’: 219)

Kata Ibnu Abbas, “Dia bergerak-gerak pindah dalam sulbi-sulbi para nabi sehingga dilahirkan oleh ibundanya.” (H.R. Ibnu Abi Hatim, Ibnu Marduyah, dan Abu Nuaim dalam ad-Dalail).

Demikian disebutkan dalam ad-Durrul Mantsur jilid 5 hal. 98.

Ibnu Katsir juga menukil ini dalam tafsirnya, juga Ibnu Abi Hatim dan Ibnul Jauzi, semuanya, dalam surat asy-Syuaraa’, pada firman-Nya,

وَتَقَلُّبَكَ فِى السَّاجِدِيْنَ

Dan perubahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud. (Q.S. asy-Syuaraa’: 219)

Keterangan seperti ini juga datang dari Mujahid. Diceritakan oleh Sufyan bin Uyainah, al-Qurbabi, al-Humaidi, Said bin Mansur, Abd bin Humaid, Ibnu Jarir, Ibnul Mudzir, Ibnu Abi Hatim, Ibnu Marduyah, dan al-Baihaqi dalam ad-Dalail, dan semacamnya, dan semacamnya pada riwayat al-Bazzar dan Thabarani dari Mujahid. Katanya: “Dari satu nabi ke nabi lainnya, sehingga aku dikeluarkan sebagai seorang nabi.”

Demikian disebutkan dalam ad-Durrul Mantsur.

Dari sini tampak bahwa masalah gerak pindah Nabi saw. merupakan perkara yang berdasar dari jalur bait-bait Abbas yang dia gubah di depan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan beliau mengokohkannya. Hal ini dikuatkan pula oleh riwayat Ibnu Abbas ra. dalam menafsirkan ayat,

وَتَقَلُّبَكَ فِى السَّاجِدِيْنَ

Dan perubahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud. (Q.S. asy-Syuaraa’: 219)

Sebagian orang yang jelek pemahamannya dan sempit akalnya menyangka bahwa gerak pindah ini sejati dan khusus bagi dzat Muhammad. Dia bisa bergerak pindah dari satu sulbi ke sulbi lain dan dari perut ke perut lain. Ini tidaklah diucapkan kecuali oleh orang bodoh atai orang gila. Dan pendapat yang aku pandang benar, insya’allah, adalah bahwa gerak pindah ini tidaklah gerak pindah dalam bentuk dzat, oleh karena itu, ia tidak tidaklah dikhususkan bagi beliau saja, namun umum pada semua anak keturunan yang terdapat dalam sulbi-sulbi para nabi tersebut, hanya saja, untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam terdapat wujud yang lebih lengkap dan sempurna. Dan bisa saja hal itu dengan sepengetahun beliau dan perasaan beliau yang ada pada keadaan itu, saat kemunculan beliau di alam dunia. Gerak pindah ini juga bermakna memberitahukan kepada setiap nabi semenjak nenek-moyangnya bahwa Muhammad saw. berada di dalam anak keturunan mereka, dan inilah sisi keistimewaan beliau daripada yang lain. Ia adalah khususiyah (keistimewaan) yang diberikan oleh Allah swt. Adapun anak keturunan selain beliau mungkin juga mereka memiliki perasaan pada kondisi tersebut, apalagi pada saat pengambilan janji kesetiaan (mitsaq), akan tetapi ilmu dan perasaan mereka tidak kekal, sebagaimana dikekalkan untuk beliau, sebagaimana pula anak keturunan selain beliau, nenek-moyang mereka tidak mendapatkan pemberitahuan tentang keberadaan mereka. Yang menguatkan pengertian ini yang dibukakan oleh Allah kepadaku adalah bahwa anak keturunan itu dari punggung Adam pasti hingga di dalam surga sebagaimana keterangan hadits, “Dan tidaklah menyebabkan kalian keluar dari surga melainkan kesalahan moyang kalian, yaitu Adam?” Dan di dalam perdebatan Musa kepada Adam, “Kamulah yang mengeluarkan manusia dari surga gara-gara kesalahanmu.”

Dalam hadits disampaikan, “Sesungguhnya Allah ta’ala kala mengeluarkan anak keturunan dari punggunh Adam, lalu para malaikat melihat mereka…” (al-hadits). Disampaikan pula, “Dia mengeluarkan anak keturunan dari punggung Adam, lalu Dia melihat satu dari mereka…” (al-hadits). Dan alangkah indahnya gubahan al-Hafidz al-Muhaddits as-Salafi Syamsuddin bin Nashiruddin ad-Dimasyqi,

تَنَقَّلَ أَحْمَدُ نُوْرًا عَظِيْمًا – تَلَأْلَأَ فِى جِبَاهِ السَّاجِدِيْنَا

تَقَلَّبَ فِيْهِمْ قَرْنًا فَقَرْنًا = إِلَى أَنْ جَاءَ خَيْرَ الْمُرْسَلِيْنَا

Ahmad bergerak pindah berupa nur yang agung, berkilauan di dahi-dahi orang-orang yang sujud.

Dia bergerak pindah di kalangan mereka dari generasi ke generasi hingga dia hadir sebagai sebaik-baik rasul.

Demikian disebutkan dalam Masalikul Hunafa karya as-Suyuthi. []

 

About shofwah