Ushulut Tarbiyah an Nabawiyah

oleh | Abuya Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki
diterjemahkan oleh | K.H. M. Ihya’ Ulumiddin

Abi dan abuya

Pengantar Penulis

Segala puji bagi Allah, Tuhan pengatur semesta alam. Shalawat dan salam semoga selalu dilimpahkan kepada Sayyidina Muhammad saw., keluarga, dan para sahabat seluruhnya. Amma ba’du.

Buku yang kami tulis ini adalah dasar-dasar tarbiyah Nabawiyah dan realitasnya. Isinya merupakan ringkasan pembahasan yang panjang dalam tema besar ini, sekaligus merupakan intisari kesimpulan mafahim (berbagai pengertian) yang terbersit dalam hati (waridat) dari apa yang Allah membukakannya atas kami dan melapangkan dengannya dada kami. Allah swt. adalah Zat Yang Maha Memberi Rizki, Zat Yang Memiliki Kekuatan, Zat Yang Maha Kuat, yang memberi kepada orang yang berhak dan orang yang tidak berhak, sementara anugerah-Nya luas tiada tara.

Kami memohon kepada Alloh swt. agar berkenan memberikan kemanfaatan kepada kami atas apa yang kami tulis, sebagaimana Dia memberikan kemanfaatan kepada hamba-hamba-Nya yang saleh serta bala tentara-Nya yang mendapatkan kebahagian. Amin. Dan segala puji bagi Allah Tuhan Pengatur sekalian alam.

Prof. Dr. Muhammad Alawi Al-Maliki.

Gambaran Umum Tradisi Keilmuan pada Masa Nabi saw.

Nabi saw. tidak memiliki madrasah yang permanen. Beliau tidak pula memiliki pondok pesantren untuk pendidikan, tempat beliau duduk memberikan ceramah di hadapan para santrinya. Namun, majelis-majelis keilmuan beliau luas, umum, dan universal (syamil), laksana hujan turun di setiap tempat, memberi manfaat kepada orang-orang khusus maupun orang-orang umum. Posisi beliau dalam ketentaraan adalah pelatih dan pemberi nasihat yang mengobarkan hati, memberikan dukungan kepada tentara dengan ucapannya. Posisi beliau saat berpergian adalah guru petunjuk sekaligus penunjuk jalan. Di rumah beliau mendidik keluarganya. Di masjid, beliau guru, juru khotbah, qadhi pemutus perkara, pemberi fatwa, dan pengatur. Di jalan, ada seseorang yang paling lemah di antara manusia memohonnya berhenti untuk sekedar bertanya tentang urusan agamanya, beliau pun berkenan berhenti.

Beliau dalam segala hal adalah guru petunjuk, pemberi nasihat dan pengajar, hanya saja karena umumnya para sahabat berkumpul di masjid untuk menunaikan shalat-shalat fardhu, maka beliau lebih banyak menyelenggarakan majelis-majelis keilmuan di masjid. Masjid dengan demikian menjadi tempat yang resmi sekaligus murni untuk ilmu pengetahuan, pendidikan, serta untuk mengulangi pelajaran, nasihat, dan petunjuk. Sesungguhnya majelis-majelis keilmuan tersebut termasuk bagian pengertian dari ibadah yang diperuntukkan bagi Alloh swt. semata. Alloh swt. berfirman:

“Dan sesungguhnya masjid-masjid itu kepunyaan Alloh. Maka janganlah kamu menyembah satu pun di dalamnya di samping (menyembah) Alloh.” (QS. Al-Jinn: 18)

Majelis-majelis keilmuan tersebut juga termasuk bagian dari pengertian zikir kepada Alloh swt. Alloh berfirman:

“Bertasbih kepada Alloh di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimulaikan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang.” (QS. An-Nuur: 36)

Tentang keberadaan masjid sebagai tempat resmi untuk penyelenggaraan majelis-majelis keilmuan, Nabi saw. secara lebih jelas menceritakan di dalam hadis:

“Barangsiapa masuk masjid kami ini untuk tujuan mengajarkan kebaikan atau untuk belajar, maka dia bagaikan orang yang berperang di jalan Alloh.” (HR. Ibnu Majah)

Saat itu, kedudukan masjid adalah sebagai madrasah sekaligus kampus yang mendapatkan kemuliaan dengan duduk dan munculnya orang yang secara terus-menerus mendapatkan anugerah lebih dibandingkan seluruh individu umat ini, yaitu junjungan kita Nabi Muhammad saw., untuk mengajar para sahabat, memberikan manfaat, dan memberikan petunjuk kepada mereka di situ.

Ketika duduk, beliau dikelilingi para sahabat dari segala sisi, dikitari dalam bentuk bundaran (halaqah) laksana bintang-bintang mengelilingi bulan sabit di malam purnama. Al-Hafidz al-Haitsami menulis bab dalam karyanya Majmauz Zawaid: Bab Duduk di Sisi Orang Alim dan berkata,

“Sesungguhnya Rasulullah saw. bila duduk, maka duduklah para sahabat di dekatnya berhalaqah-halaqah.” (HR. Al-Bazzar)

Yazid ar-Raqqasy berkata bahwa Anas bin Malik ra. berkata kala menceritakan kepada kami hadis ini, “Demi Alloh, tidaklah apa yang dilakukan Nabi saw. seperti kamu lakukan ini. Seseorang di antaramu duduk dan berceramah lalu berkumpul di sekitarnya. Sesungguhnya yang dilakukan para sahabat usai shalat subuh duduk berhalaqah-halaqah.”

Al-Bukhari dalam Shahih-nya menulis bab duduk bersama secara halaqah (membentuk lingkaran) di masjid, maksudnya diperbolehkan duduk secara halaqah di masjid, untuk mempelajari ilmu, membaca Al-Qur’an, zikir, dan sebagainya. Walaupun duduk bersama membentuk lingkaran, harus memposisikan sebagaian orang membelakangi kiblat.

Berkumpulnya murid membentuk lingkaran terhadap guru yang mengajari (halaqah) adalah indikasi rasa suka, kesempurnaan rasa rindu, dan besarnya semangat terhadap apa yang disampaikan oleh guru, di samping indikasi konsentrasi, keseriusan, dan kesempurnaan memuliakan. Perintah Nabi saw. menetapkan bahwa tata krama ini sangat ditekankan dan dianjurkan, sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Nuaim dalam tata krama guru dan pelajar, serta ad-Dailami dari Abu Hurairah secara marfu’ berbunyi,

“Jika kamu duduk di samping orang alim atau ilmu, mendekatlah. Hendaklah duduk sebagian kamu di belakang sebagian kamu yang lain. Janganlah kamu duduk berpisah-pisah seperti duduknya kaum jahiliah.”

Imam al-Yusy membuat satu pasal di dalam Qanun-nya. Di dalam pasal itu dia menyebutkan prinsip-prinsip dasar menyebarkan ilmu. Dia berkata, “Pengajaran dalam bentuk tadris, asal mulanya adalah apa yang dilakukan oleh Nabi saw. pada majelis-majelisnya bersama para sahabat di dalam menjelaskan hukum-hukum, hikmah-hikmah, berbagai realitas kontekstual, menafsirkan ayat-ayat Al-Quran, menuturkan fadhilah-fadhilah serta keistimewaan ayat, dan sebagainya. Dalam majelis-majelis itu mereka berkumpul di samping beliau. Ini adalah tradisi halaqah ilmu yang senantiasa diterapkan para ulama kini dan seterusnya. Dengan demikian, apa yang dilakukan oleh Nabi saw. pada majelis-majelisnya dalam bentuk halaqah merupakan ketetapan sekaligus keterangan. Alloh swt.  berfirman,

“…agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka…” (QS. An-Nahl: 44)

Al-Marwazi dan Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dari Abu Muawiyah al-Kindi. Katanya, “Aku menemui Umar di Syam. Umar bertanya kepadaku tentang perilaku manusia. Katanya, “Barangkali seseorang masuk masjid laksana unta berlari. Jika dia lihat majelis yang di situ ada teman yang dikenalinya, ia duduk bergabung dengan majelis itu”. Aku menjawab, “Tidak begitu, tetapi di sana ada sekian banyak majelis yang bermacam-macam. Mereka duduk mempelajari, dan menuturkan kebaikan.” Kata Umar, “Kamu senantiasa dalam keadaan kebaikan selama kamu konsisten dengan (salah satu dari) sekian banyak majelis yang bermacam-macam itu.”

Generasi salaf pun mentradisikan itu. Jabir bin Abdullah, misalnya, mempunyai halqah di masjid Nabawi. Di situ ditransferkan ilmunya. Dan tidaklah halaqah-halaqah ini terfokus pada fungsi mempelajari ilmu belaka, melainkan berfungsi pula menjadi forum zikir kepada Alloh swt. Bertahlil, Bertasbih, Beristighfar. Imam ad-Darasi meriwayatkan bahwa Nabi saw. melewati satu majelis di masjidnya. Riwayat Ibnu Majah menyebutkan pada waktu itu Nabi saw. mendapati dua halaqah. Satu halaqah membaca Al-Quran dan halaqah lainnya mengkaji ilmu. Penyelenggaraan halaqah ini tidaklah terbatas sewaktu hadirnya Rasulullah saw., tetapi juga pada waktu beliau tidak hadir karena fungsi halaqah untuk kebaikan, sementara beliau menyuruh kebaikan dilakukan kapan pun.

Para sahabat seperti dijelaskan Anas bin Malik di jika usai shalat subuh, mereka duduk membentuk halaqah-halaqah. Nabi saw. kala memasuki masjid dan mendapati dua halaqah, beliau duduk menghampiri halaqah ilmu.

Manakala keberadaan halaqah-halaqah selalu identik dan terfokus dengan ilmu dan zikir, tampaknya halaqah di masjid tidak diselenggarakan selain untuk urusan yang mulia ini. Jadilah bentuk duduk demikian menjadi pertanda  halaqah ilmu dan zikir. Setiap orang yang melihat halaqah, maka tergambarlah dalam benaknya bahwa di sana terdapat majelis ilmu dan zikir.

Dengan begitu, halaqah mendapatkan kemuliaan, keutamaan, dan keagungan ilmu dan zikir. Dari sini muncul larangan duduk dalam bentuk halaqah selain dimaksudkan untuk ilmu dan zikir. Imam Muslim dari Jabir ra. menceritakan, “Rasulullah saw memasuki masjid, sementara sahabat duduk berhalaqah-halaqah. Beliau lalu bersabda, “Semestinya aku tidak melihatmu duduk berkelompok terpisah-pisah.” Ibnu Hajar menjelaskan bahwa beliau  ingkar terhadap perilaku para sahabat duduk berhalaqah-halaqah karena duduk halaqahnya atas dasar sesuatu yang tidak bermanfaat. Berbeda dengan duduk halaqah mereka di sebelah beliau yang dimaksudkan untuk menyimak ilmu. Demikian penjelasan Ibnu Hajar.

Menurut kami (penyusun) penjelasan tersebut diperkuat oleh hadis Abdullah bin Mas’ud

“Akan muncul  di akhir zaman kaum yang duduk di masjid berhalaqah-halaqah. Angan-angan (orientasi) mereka dunia. Hendaklah kamu  tidak menemani duduk mereka. Sesungguh Alloh swt.

Hadis tersebut disebutkan oleh Imam al-Iraqi. Menurutnya sanad hadis ini lemah. Rasulullah saw. bersabda,

“Dengan duduk halaqah pada majelis ilmulah aku diperintahkan.”

Hadis serupa ini juga diriwayatkan dari Mu’adz bin Jabal.

Majelis ilmu saat itu tampak teratur dan tertib sesuai dengan jadwal hari dan waktu yang ditentukan. Indikasi ini ditunjukkan oleh Imam Bukhari di dalam Shahih-nya. Dia membuat judul tentang bab orang yang menjaga hari-hari yang ditentukan untuk ahli ilmu. Disebutkan pada bab tersebut bahwa sesungguhnya Abdullah memberikan peringatan kepada manusia setiap hari Kamis. Ketika ditanya, Abdullah berargumentasi dengan perbuatan yang dikerjakan Rasulullah saw.

Bagi kaum wanita disediakan jadwal hari-hari tertentu. Di dalam hadis disebutkan bahwa kaum wanita mengadu kepada Rasulullah saw., “Kami kalah dengan kaum laki-laki. Maka hendaklah Tuan menyediakan jadwal khusus bagi kami untuk belajar.” Beliau menetapkan hari secara terjadwal waktu beliau berkumpul bersama mereka, memberikan nasihat dan memotivasi beramal kebaikan.” (HR. Bukhari)

Seringkali tampak Nabi saw. memberikan kewenangan kepada salah seorang dari istri-istri beliau yang suci untuk menerangkan suatu masalah, menyimpulkan hal yang masih global, maupun menjelaskan hal yang masih ganjil berkaitan dengan urusan kewanitaan.

Kadangkala sebagian sahabat menggantikan kedudukan Nabi saw. dalam menyampaikan ilmu. Abdullah bin Rawahah, misalnya, menyeru kepada para sahabat, “Kemarilah sehingga kami beriman kepada Tuhan sesaat.” Para sahabat duduk mengitarinya. Abdullah memberikan peringatan kepada mereka dengan ilmu Alloh dan tauhid yang berkaitan dengan akhirat. Kadangkala Abdullah menggantikan Rasulullah saw. ketika beliau bangun dari duduknya. Abdullah mengumpulkan manusia, memberikan mereka peringatan, dan memperdalam ilmu mereka dalam rangka lebih mempertegas apa yang disampaikan Rasulullah saw. Ketika beliau datang, tampak mereka berkumpul dan berkonsentrasi penuh menyimak ceramah Abdullah. Rasulullah saw. duduk menghampiri seraya memerintahkan mereka mengambil ilmu dari majelis ini, lalu bersabda, “Dengan menyampaikan ilmu inilah aku diperintahkan.” Hadis serupa ini juga diriwayatkan dari Mu’adz bin Jabal.

Selain Abdullah bin Rawahah, di antara sahabat yang pernah menggantikan Rasulullah saw. adalah Ubadah ibnush-Shamit. Dia diutus dan diberi kewenangan untuk mengajarkan Al-Quran kepada ahli shuffah. (HR. Ibnul Jauzi dalam Musykil ash-Shahihain)

Abu Ubaidah ibnul Jarrah pernah pula diberikan kewenangan untuk mendidik salah seorang sahabat utusan Rasullah saw. Kepada utusan ini Rasulullah saw. bersabda, “Aku mengirim kamu kepada orang yang akan mendidik dan mengajarimu tata krama dengan baik.” (HR. Ibnu Asakir)

Nabi saw. mengutus fuqaha dan qurra’ ke seluruh penjuru untuk mendidik manusia dan memperdalam  mereka dalam urusan agama.  Di antaranya Musaib bin Umair. Dia duta Nabi saw. ke Madinah. Dia tinggal di tempat As’ad bin Zurarah. Mus’ab berkeliling dari rumah ke rumah kaum Anshor (door to door) dalam rangka membacakan Al-Quran dan menyeru mereka kepada Alloh swt. Dari tangannya sekian banyak orang yang memeluk Islam.

Termasuk di antara duta Rasulullah saw. adalah Mu’adz bin Jabal. Dia diutus sebagai qadhi di Yaman mengajari manusia tentang Al-Quran dan syariat-syariat Islam. Juga Amr bin Hazm al-Khazraji al-Bukhari diangkat sebagai petugas di Najran untuk memberikan pendalaman agama dan mengajarkan Al-Quran. Demikian disebukan dalam  kitab al-Istiaab. Begitu pula para sahabat yang mati syahid di jalan Alloh seperti sekelompok sahabat dalam peristiwa Raji’ dan Bi’ri Maunah.

Sementara shuffa “emperan” Masjid Nabawi difungsikan sebagai madrasah untuk belajar membaca dan memahami agama. Di shuffah menetap para sahabat yang tergolong fakir yang tidak memiliki keluarga. Mereka mengkaji dan mempelajari Al-Quran, kemudian melakukan ekspansi ke seluruh penjuru dunia untuk mengajarkan Al-Quran kepada umat manusia.[]

Bersambung.

About shofwah