Jangan Sembarangan Mengkafirkan (3-tiga)

abuyalawi1

oleh | Abuya Sayyid Muhammad ibn Alawi Al-Maliki Al-Hasani
diterjemahkan oleh | Ust. Kamal Muhlis

الحلقة الثالثة من كتاب مفاهيم يجب أن تصحح

تأليف إمام أهل السنة والجماعة قرن 21 أبوي السيد محمد علوي المالكي الحسني

التحذير من المجازفة بالتكفير 3

والمعلوم من الدين ضرورة كالتوحيد والنبوات وختم الرسالة بمحمد صلى الله عليه وسلم والبعث في اليوم الآخر والحساب والجزاء والجنة والنار يكفر جاحده ، ولا يعذر أحد من المسلمين بالجهل به إلا من كان حديث عهد في الإسلام فإنه يعذر إلى أن يتعلمه فإنه لا يعذر بعده.

والمتواتر الخبر الذي يرويه جمع يؤمن تواطؤهم على الكذب عن جمع مثلهم إما من حيث الإسناد كحديث : من كذب عليَّ متعمداً فليتبوأ مقعده من النار.

وإما من حيث الطبقة كتواتر القرآن فإنه تواتر على البسيطة شرقاً وغرباً درساً وتلاوة وحفظاً وتلقاه الكافة عن الكافة طبقة عن طبقة فلا يحتاج إلى إسناد.

وقد يكون تواتر عمل وتوارث كتواتر العمل على شيء من عصر النبوة إلى الآن ، أو تواتر علم كتواتر المعجزات فإن مفرداتها وإن كان بعضها آحاداً لكن القدر المشترك منها متواتر قطعاً في علم كل إنسان مسلم .

 Jangan Sembarangan Mengkafirkan (3-tiga)

Dalam ajaran Islam, masalah yang dapat diketahui secara pasti kebenarannya seperti masalah tauhid (mengakui ke-esa-an Allah), masalah kenabian, telah ditutupnya risalah dengan diutusnya Nabi Muhammad, kiamat, hisab, pembalasan pada hari kiamat, surga dan neraka. Jika seseorang mengingkari hal-hal seperti itu, ia dapat dinilai sebagai orang kafir. Setiap Muslim tidak boleh berhalangan untuk mengetahui hal-hal pokok seperti itu, kecuali bagi orang-orang yang baru masuk Islam. Orang yang baru masuk Islam boleh – untuk sementara – berhalangan : untuk selanjutnya dia harus mempelajari juga, dan tidak boleh banyak alasan untuk tidak mengetahui dan mempercayai atau meyakininya.

Adapun hadist mutawatir adalah hadist yang diriwayatkan oleh sejumlah perawi yang tidak mungkin melakukan kebohongan, diterima dari sejumlah orang yang seperti mereka, baik dari segi isnad yaitu rangkain sejumlah orang yang meriwatkannya – seperti hadist :

من كذب عليَّ متعمداً فليتبوأ مقعده من النار

” Siapa saja yang berbohong atas-Ku , hendaklah menyiapkan tempat duduknya didalam nereka “

– maupun dari segi thobaqot atau tingkatannya, seperti mutawirnya Al-Qur’an karena Al-qur’an mutawatir, baik di barat maupun di timur, baik dalam hal mempelajari ataupun membacanya, dan diterima sejak dahulu sampai sekarang dari sekelompok yang banyak, dari kelompok yang banyak pula, dari dari thobaqot-thobaqot lainnya sehingga tidak lagi memerlukan isnad.

Kadang-kadang yang mutawatir itu dalam bentuk perbuatan yang secara turun-temurun , sejak masa hidup Nabi Muhammad sampai sekarang , di amalkan dan di praktikkan serta tidak ada orang yang mengingkarinya (khususnya dari kalangan para ulama’) . Bisa juga mutawatir dari segi ilmu seperti kemutawatirannya segala mu’jizat Nabi Muhammad. Meskipun sebagaimana ada yang diriwayatkan secara ahad (individu), ada yang shohih, hasan, dan ada yang dhoif, tetapi dapat di nilai mutawatir dengan ilmu pengetahuan setiap insan muslim.

Bersambung.

About shofwah