Cerita Lain Karomah Abuya

abuya3

Ada satu karomah beliau yang dirasakan betul dengan nyata oleh salah seorang muridnya yang saat ini berdomisili di Malang. Sekitar tahun 1998, murid tersebut yang telah berkeluarga, datang kepada beliau untuk meminta nama anak pertama yang masih berada dikandungan istrinya.

”Kamu ingin meminta nama?”, tanya Abuya.

”Benar wahai Abuya”, jawab si murid.

Kemudian Abuya mengatakan,”Kemarikan tangan!” Murid tersebut memberikan tangannya, beliau lalu memegang telunjuk murid tersebut sambil berkata,”Pertama, laki-laki, Muhammad Anas. Kemudian memegang jari tengah, kedua, Muhammad Alawi. Lalu memegang jari manisnya, ketiga, Abdullah”, kata Abuya.

Ketika memegang jari kelingking, beliau terdiam sejenak lalu berkata,”Insya Allah, perempuan”.

Subhanallah, apa yang dikatakan oleh beliau semua terjadi tepat sesuai dengan yang beliau katakan. Anak pertama lahir laki-laki, saya beri nama Muhammad Anas, kedua juga laki-laki, ketiga juga laki-laki dan yang keempat adalah perempuan. Padahal saat itu mereka semua belum lahir ke dunia ini. Maha suci Allah yang telah membuka hijab kepada hamba-hamba pilihan-Nya.

Di antara karomah beliau yang sangat jelas adalah dimana beliau berada, beliau akan dihormati & disanjung. Dalam pertemuan ulama dibelahan dunia islam atau majlis-majlis ilmu manapun kehadirannya selalu dibanggakan. Tak terkecuali dihadapan penguasa atau pemerintah.

Suatu ketika, di Makkah diadakan pertemuan para tokoh & ulama yang juga dihadiri oleh raja & para aparat penting pemerintahan. Mereka datang dari kota-kota Hijaz.
Raja Kerajaan Arab Saudi saat itu Raja Fahd bin Abdul Aziz tiba ditempat pertemuan & duduk diposisi terdepan dengan kursi khusus yang disiapkan. Di samping kanan kirinya adalah tokoh-tokoh & ulama terkemuka saat itu.

Tidak berselang lama, Abuya Sayyid Muhammad Al-Maliki dengan beberapa orang yang mengikutinya tiba di tempat. Begitu Raja melihat kehadiran beliau. Tampaklah kewibawaan beliau yang besar, maka Raja Fahd berdiri menyambut kedatangan Abuya. Otomatis ketika Raja berdiri. Maka semua orang yang ada ditempat itu, baik kalangan pemerintahan maupun ulama & tokoh ikut berdiri. Seakan-akan beliaulah yang ditunggu kehadirannya, padahal disana banyak ulama & tokoh terkemuka.

Kemudian Raja Fahd mempersilahkan Abuya duduk di sampingnya, tentu di barisan paling depan. Sekalipun tadi sepertinya semua kursi sudah terisi, tetapi untuk beliau selalu ada kursi kosong. Maka disiapkanlah kursi untuk tempat duduk beliau.

Siapa yang menjadikan Raja begitu hormat kepada beliau? Siapa yang menyuruh mereka berdiri menyambut kehadirannya & siapa yang menggerakkan hati mereka untuk cinta kepada beliau? Dialah Allah swt. Raja Diraja Yang Maha Kuasa.

Maka tidaklah berlebihan jika seorang bijak berkata,”Sebenar-benarnya raja di dunia ini adalah para ulama”. Memang demikianlah kenyataannya, ulama yang ilmunya barokah & manfaat pasti akan dihormati & dicintai di manapun berada. Merekalah auliya Allah, kekasih-kekasih Allah.

Bukti ketinggian maqam beliau di sisi Allah & Rasul-Nya, Abuya Sayyid Muhammad Al-Maliki tergolong salah satu hamba yang mendapat i’tina’ khasshah (perhatian istimewa) dari baginda Nabi Muhammad saw. dalam segala gerak-gerik & kehidupan beliau, sekalipun pada hal-hal yang sepele atau kecil.

Maqam seperti ini bukanlah sembarang maqam, sebab hanya hamba-hamba pilihan Allah-lah yang mendapatkannya, seperti Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad.

Hal ini tampak jelas pada akhir hayat beliau, di mana beliau tidak memotong rambut & tidak memacari jenggotnya. Guru kami Al-Ustadz Al-Habib Sholeh bin Ahmad AlAydrus ketika melaksanakan ibadah haji pada tahun 1424 H dengan beberapa murid-murid Abuya lainnya datang untuk menziarahi beliau.

Lalu Ustadz Sholeh bertanya kepada Abuya kenapa beliau tidak memacari jenggotnya. Abuya diam tidak menjawab. Ditanya kedua kalinya, beliau tetap diam dan ketika ditanya ketiga kali, beliau berkata,”Rasulullah saw. melarangku”.

Maksudnya, Rasulullah melarang beliau untuk memacari jenggot beliau agar tampak ubannya, yang memberi isyarat bahwa manusia itu akan tua & sebentar lagi akan menghadap Allah swt. Siapapun & bagaimanapun kedudukannya akan menghadapi kematian. Rupanya itu adalah pertanda dekatnya ajal beliau.

Karena memang kenyataannya demikian, pertemuan beliau dengan murid-muridnya yang datang dari Indonesia pada waktu itu adalah pertemuan terakhir mereka di dunia dengan sang maha guru. Sembilan bulan setelah itu, tepatnya di bulan Ramadhan 1425H beliau dipanggil ke hadirat Allah swt.

Apa yang terjadi kepada beliau ini mengingatkan kita kepada Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad. Di mana di akhir hayat beliau, beliau memanjangkan rambutnya, tidak memotongnya, ketika ditanya alasannya, beliau mengatakan bahwa yang beliau lakukan itu karena perintah Rasulullah saw. []

About shofwah