Keluarga Besar

Abuya Sayyid Muhammad ibn Alawy Al-Maliki Al-Hasani

Abuya Sayyid Alawy

ibn Sayyid Abbas Al-Maliki Al-Hasani

Abuya Sayyid Muhammad

Ibn Alawy Al-Maliki Al-Hasani

Abuya Sayyid Muhammad

Ibn Alawy Al-Maliki Al-Hasani

Sayyid Ahmad

Ibn Muhammad Al-Maliki Al-Hasani

 

Seputar Keluarga Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam

masjidnabawi

Postingan sebelumnya, kami menampilkan Tanda-tanda kenabian Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Kali ini kami postingan tentang seputar keluarga Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, yang kami ambil dari kitab Dzakhair Muhammadiyah karya Abuya As Sayyid Muhammad bin Alawy Al-Maliki Al-Hasani. Berikut terjemahannya:

Putera-puteri Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam

Putera-puteri beliau yang pertama adalah Qasim. Dengan Qasim itulah beliau diberi gelar panggilan. Lalu Abdullah yang bergelar Thayyib (orang yang baik) dan Thahir (orang yang bersih). Ada yang mengatakan Thayyib lain dengan Thahir. Kemudian Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum, dan Fatimah. Semoga Allah swt. meridlai mereka semua.

Putera-putera beliau meninggal sebelum Islam pada saat mereka masih kecil, sedang puteri-puteri beliau semua menjumpai Islam dan turut berhijrah bersama beliau. Semuanya dari Khadijah ra.

Di Madinah, lahir putera beliau bernama Ibrahim dari Mariyah. Ibrahim meninggal dalam umur 70 malam. Ada yang mengatakan: 7 bulan. Ada pula yang mengatakan: 8 bulan. Putera-puteri beliau kesemuanya meninggal saat beliau masih hidup kecuali Fatimah. Fatimah wafat 7 bulan setelah wafat beliau. Zainab sebagai puteri tertua menikah dengan Abul Ash bin Rabi’ dan telah masuk Islam. Dari keduanya lahirlah Ali (yang meninggal semasa kecil) dan Umamah, yang diceritakan pernah digendong oleh beliau sewaktu shalat. Umamah lalu dinikahi oleh Ali sepeninggal bibinya, yaitu Fatimah, atas dasar wasiat dari Fatimah. (Sepeninggal Ali), Umamah dinikahi oleh Mughirah bin Naufal bin Harits bin Abdul Mutthalib dan melahirkan putera bernama Yahya. Sang putera, Yahya, meninggal di sisi Mughirah.

Mencaci Muslim Itu Suatu Kefasikan, Membunuhnya Adalah Suatu Kekufuran (2-dua)

mafahim

oleh | Abuya Sayyid Muhammad ibn Alawi Al-Maliki Al-Hasani
diterjemahkan oleh | Ust. Kamal Muhlis

الحلقة الثانية عشرة من كتاب مفاهيم يجب أن تصحح

تأليف إمام أهل السنة والجماعة قرن 21 أبوي السيد محمد علوي المالكي الحسني

سباب المسلم فسوق وقتاله كفر 2

وفي رواية انتهى خالد إلى القوم فتلقوه ، فقال لهم ما أنتم أي : أمسلمون ؟ أم كفار ؟ قالوا : مسلمون قد صلينا وصدقنا بمحمد صلى الله عليه وسلم وبنينا المساجد في ساحتنا وأذنا فيها ، وفي لفظه لم يحسنوا أن يقولوا : أسلمنا ، فقالوا: صبأنا صبأنا ، قال فما بال السلاح عليكم ؟ قالوا : إن بيننا وبين قوم من العرب عداوة فخفنا أن تكونوا هم فأخذنا السلاح ، قال : فضعوا السلاح فوضعوا ، فقال : استأسروا فأمر بعضهم فكتف بعضاً وفرقهم في أصحابه فلما كان السحر نادى منادي خالد : من كان معه أسير فليقتله ، فقتل بنو سليم من كان معهم  وامتنع المهاجرون والأنصار رضي الله عنهم ، وأرسلوا أسراهم فلما بلغ النبي صلى الله عليه وسلم ما فعل خالد ، قال : اللهم إني أبرأ إليك مما صنع خالد ، قال ذلك مرتين .

Mencaci Muslim Itu Suatu Kefasikan, Membunuhnya Adalah Suatu Kekufuran (2-dua)

Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa ketika Khalid bin Walid sampai pada kaum Judzaimah, mereka menyambutnya dengan baik. Lalu, Khalid berkata: “Bagaimanakah kalian? Sudah muslim atau masih kafir?” Mereka menjawab: “Kami adalah muslimin. Kamipun telah biasa mendirikan shalat, membenarkan kenabian Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Kami juga telah membangun beberapa masjid dihalaman rumah kami, dan kami biasa mendengungkan adzan didalamnya.” Mereka tidak mengatakan : “Aslamnaa; ” kami telah masuk islam” atau ” kami telah menyerah”, tetapi : “Shaba’na, shoba’na” “Kami menyerah, kami menyerah”. Kemudian, Khalid bin Walid berkata kepada mereka: “Mengapa kalian masih menyandang pedang?” Mereka menjawab : “Sesungguhnya diantara kami dan sebagian orang-orang arab ada permusuhan. Kami takut, jangan-jangan kalian seperti mereka itu. Maka kamipun tetap menyandang pedang.” Khalid bin Walid berkata : “(Sekarang) simpanlah pedang kalian!” Mereka akhirnya meletakkan pedangnya.

Rasulullah Cinta Mereka

nabawi-1

 

 

 

 

 

 

Tatkala Prof. DR. al-Muhaddits as-Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki bersama rombongan ulama lainnya pergi berziarah ke Makam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam., tiba-tiba beliau diberikan kasyaf (tersingkapnya hijab) oleh Allah Swt. dapat jumpa dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Di belakang Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sangat banyak orang yang berkerumunan. Ketika ditanya oleh as-Sayyid Muhammad al-Maliki: “Ya Rasulullah, siapakah orang-orang itu?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun menjawab: “Mereka adalah ummatku yang sangat aku cintai.”

Dan di antara sekumpulan orang yang banyak itu ada sebagian kelompok yang sangat banyak jumlahnya. Lalu as-Sayyid Muhammad al-Maliki bertanya lagi: “Ya Rasulullah, siapakah mereka yang berkelompok sangat banyak itu?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian menjawab: “Mereka adalah Bangsa Indonesia yang sangat banyak mencintaiku dan aku mencintai mereka.”

Akhirnya as-Sayyid Muhammad al-Maliki menangis terharu dan terkejut. Lalu beliau keluar dan bertanya kepada jamaah: “Mana orang Indonesia? Aku sangat cinta kepada Indonesia.” (Dikutip dari ceramah Syaikh KH. Muhyiddin Abdul Qadir al-Manafi).

 

Tanda-tanda Kenabian

nabawi

Postingan sebelumnya, kami menampilkan masa perkembangan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Kali ini akan kami postingan tentang Tanda-tanda Kenabian Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, yang kami ambil dari kitab Dzakhair Muhammadiyah karya Abuya As Sayyid Muhammad bin Alawy Al-Maliki Al-Hasani. Berikut terjemahannya:

Awal tanda kenabian yang bisa diindera adalah pembelahan dada beliau yang mulia. Pembelahan dada ini telah terjadi pertama kali saat beliau masih kecil dalam asuhan Halimah ketika beliau berumur 4 tahun menurut pendapat yang shahih. Adapun kedua kali, dada beliau dibelah pada usia 10 tahun. Ketiga, dada beliau dibelah saat malaikat Jibril turun membawa wahyu pada saat (awal) beliau diangkat menjadi Nabi. Sedang keempat terjadi pada malam Isra’ sebagaimana diceritakan dalam dua kitab hadits shahih. Dan ketahuilah sesungguhnya seluruh kejadian pembelahan dada berikut dikeluarkannya hati beliau merupakan perkara yang harus dipercaya secara total (taslim) tanpa berupaya memalingkan masalah jauh dari hakikatnya karena otoritas kemahakuasaan. Maka, tidak ada sesuatu yang mustahil dari kejadian itu.

Kenapa? Ada apa di Bulan Sya’ban?

bulansyaban

Abuya As Sayyid Muhammad Al-Maliki dalam kitab Madza fi Sya’ban menulis:

Di bulan Sya’ban ada banyak peristiwa dan kejadian penting dan sangat layak mendapat perhatian melalui mobilisasi masa dengan perkumpulan, seminar, dan perayaan. Sebagian kejadian itu adalah:

Perpindahan (Tahwil) Qiblat

Perpindahan Qiblat dari Baitul Maqdis ke Ka’bah terjadi pada bulan Sya’ban. Sebelumnya Beliau shallallahu alaihi wasallam menantikan dengan keinginan kuat (Raghbah Qawiyyah). Setiap hari wajahnya sering kali  menengadah ke langit menanti wahyu Rabbani sampai akhirnya Allah Menentramkan mata Beliau dengan mengabulkan harapan dan keinginan. Turunlah firman Allah:

          قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِى السَّمَاءِ , فَلَنُوَلِّيَـنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُمَا كُنْـتُمْ فَوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ شَطْرَهُ …

 Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil HaramDan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya… “ QS. al Baqarah:144.