Keluarga Besar

Abuya Sayyid Muhammad ibn Alawy Al-Maliki Al-Hasani

Abuya Sayyid Alawy

ibn Sayyid Abbas Al-Maliki Al-Hasani

Abuya Sayyid Muhammad

Ibn Alawy Al-Maliki Al-Hasani

Abuya Sayyid Muhammad

Ibn Alawy Al-Maliki Al-Hasani

Sayyid Ahmad

Ibn Muhammad Al-Maliki Al-Hasani

 

Madza fi Sya’ban: Laporan Amal

bulansyaban

Pada artikel sebelumnya dijelaskan perpindahan tahwil (qiblat). Kali ini pembahasan tentang laporan amal, selamat mengikuti.

Laporan Amal

Di antara keistimewaan bulan Sya’ban yang sudah dikenal adalah laporan amal (Raf’ul Amal). Tepatnya laporang terbesar dan terluas. Dalam hadits dari Usamah bin Zaid ra disebutkan: Ia berkata: Aku bertanya: “Wahai Rasulullah, saya tidak pernah melihat engkau puasa dalam bulan – bulan seperti engkau berpuasa di bulan Sya’ban?” Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

          ذَاكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبَ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيْهِ اْلأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

Itulah bulan yang dilupakan manusia, antara Rajab dan Ramadhan. Itulah bulan dimana amal – amal diangkat (dilaporkan) kepada Tuhan semesta alam dan aku suka jika amalku diangkat dalam keadaan aku sedang berpuasa” (HR Nasai)

Laporan di Siang Hari dan Laporan di Malam Hari

Dalam Shahih Muslim dari Abu Musa al Asy’ari ra. Ia berkata:

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berdiri di antara kami dengan lima kalimat. Selanjutnya Beliau bersabda:

           إِنَّ اللهَ تَعَالَى لاَ يَنَامُ وَلاَ يَنْبَغِي لَهُ أَنْ يَنَامَ يَخْفَضُ الْقِسْطَ وَيَرْفَـعُهُ يُرْفَعُ إِلَيْهِ عَمَلُ اللَّيْلِ قَبْلَ عَمَلِ النَّهَارِ وَعَمَلُ النَّهَارِ قَبْلَ عَمَلِ اللَّيْلِ حِجَابُهُ النُّوْرُ لَوْ كَشَفَهُ َلأَحْرَقَتْ سَبَحَاتُ وَجْهِهِ مَا انْتَهَى إِلَيْهِ بَصَرُهُ مِنْ خَلْقِهِ

Sesungguhnya Allah ta’alaa tidak tidur dan tidak semestinya Dia tidur. Dia merendahkan dan meninggikan timbangan. Diangkat kepadaNya amalan malam sebelum amalan siang, dan amalan siang sebelum amalan malam. HijabNya adalah cahaya. Andai Dia Membukanya niscaya kegungan wajahNya akan membakar sejauh pandanganNya dari ciptaanNya”

Al Allamah al Munawi rahimahullah berkata:

[Maksud (laporan dalam hadits ini) adalah: Diangkat (dilaporkan) kepadaNya amalan siang pada permulaan malam setelahnya dan amalan malam pada permulaan siang setelahnya. Ini karena para malaikat penjaga (Hafazhah)  naik (ke langit) dengan membawa amalan - amalan malam  - setelah malam habis – pada permulaan siang dan mereka naik membawa amalan - amalan siang – setelah siang habis – pada permulaan malam].

Pertemuan Pengurus Ash Shofwah Al Malikiyyah dengan Praktisi Media dan Production House

Pertemuan Dengar Pendapat

 

 

 

 

 

 

Dalam pembuatan stasiun televisi Ash Shofwah, pengurus harian Ash Shofwah melakukan serangkaian persiapan, di antaranya melakukan dengar pendapat dengan praktisi Media dan Production House. Pertemuan ini dilaksanakan di Pagesangan, hari Sabtu tanggal 19 April 2014 bertempat di kediaman Bpk Helmy. Tempat ini juga yang dipakai oleh production house yang beliau kelola.

Hadir dalam dengar pendapat tersebut jajaran pengurus harian, di antaranya KH Ihya’ Ulumiddin, Hb. Zein, KH Kamal Muchlis, Hb. Idrus, KH Zubair dan Ust. Ayyub mewakili Hawariy. Sedangkan praktisi Media diwakili oleh Bpk Helmy selaku praktisi Production House dan Bpk Anang dari JTV.

Di Antara Hikmah Larangan Makan dan Minum Sambil Berdiri

makanminum

 

 

 

 

 

ILMU kedokteran modern mengungkapkan bahwa minum dalam keadaan berdiri menyebabkan air yang mengalir berjatuhan dengan keras pada dasar lambung dan menumbuknya, menjadikan lambung kendor dan menjadikan pencernaan sulit. Sebagaimana terus-menerus makan dan minum sambil berdiri dapat menimbulkan luka pada dinding lambung. Penemuan ini menjelaskan kepada manusia bahaya yang telah diperingatkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits berikut ini.

عن أنس – رضي الله عنه – ، عن النبيِّ – صلى الله عليه وسلم – : أنه نَهى أن يَشْرَبَ الرَّجُلُ قَائِماً . قَالَ قتادة : فَقُلْنَا لأَنَسٍ : فالأَكْلُ ؟ قَالَ :

ذَلِكَ أَشَرُّ – أَوْ أخْبَثُ – رواه مسلم

Dari Anas radhiyallahu anhu dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam : “Sesungguhnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam melarang seseorang untuk minum berdiri”. Qatadah (seorang tabi’in) berkata : “Kami bertanya kepada Anas, ‘Bagaimana dengan makan sambil berdiri?’ Anas menjawab, ‘Yang demikian itu lebih jelek dan lebih buruk.’ (HR. Muslim).

Seputar Keluarga Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam

masjidnabawi

Postingan sebelumnya, kami menampilkan Tanda-tanda kenabian Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Kali ini kami postingan tentang seputar keluarga Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, yang kami ambil dari kitab Dzakhair Muhammadiyah karya Abuya As Sayyid Muhammad bin Alawy Al-Maliki Al-Hasani. Berikut terjemahannya:

Putera-puteri Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam

Putera-puteri beliau yang pertama adalah Qasim. Dengan Qasim itulah beliau diberi gelar panggilan. Lalu Abdullah yang bergelar Thayyib (orang yang baik) dan Thahir (orang yang bersih). Ada yang mengatakan Thayyib lain dengan Thahir. Kemudian Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum, dan Fatimah. Semoga Allah swt. meridlai mereka semua.

Putera-putera beliau meninggal sebelum Islam pada saat mereka masih kecil, sedang puteri-puteri beliau semua menjumpai Islam dan turut berhijrah bersama beliau. Semuanya dari Khadijah ra.

Di Madinah, lahir putera beliau bernama Ibrahim dari Mariyah. Ibrahim meninggal dalam umur 70 malam. Ada yang mengatakan: 7 bulan. Ada pula yang mengatakan: 8 bulan. Putera-puteri beliau kesemuanya meninggal saat beliau masih hidup kecuali Fatimah. Fatimah wafat 7 bulan setelah wafat beliau. Zainab sebagai puteri tertua menikah dengan Abul Ash bin Rabi’ dan telah masuk Islam. Dari keduanya lahirlah Ali (yang meninggal semasa kecil) dan Umamah, yang diceritakan pernah digendong oleh beliau sewaktu shalat. Umamah lalu dinikahi oleh Ali sepeninggal bibinya, yaitu Fatimah, atas dasar wasiat dari Fatimah. (Sepeninggal Ali), Umamah dinikahi oleh Mughirah bin Naufal bin Harits bin Abdul Mutthalib dan melahirkan putera bernama Yahya. Sang putera, Yahya, meninggal di sisi Mughirah.

Mencaci Muslim Itu Suatu Kefasikan, Membunuhnya Adalah Suatu Kekufuran (2-dua)

mafahim

oleh | Abuya Sayyid Muhammad ibn Alawi Al-Maliki Al-Hasani
diterjemahkan oleh | Ust. Kamal Muhlis

الحلقة الثانية عشرة من كتاب مفاهيم يجب أن تصحح

تأليف إمام أهل السنة والجماعة قرن 21 أبوي السيد محمد علوي المالكي الحسني

سباب المسلم فسوق وقتاله كفر 2

وفي رواية انتهى خالد إلى القوم فتلقوه ، فقال لهم ما أنتم أي : أمسلمون ؟ أم كفار ؟ قالوا : مسلمون قد صلينا وصدقنا بمحمد صلى الله عليه وسلم وبنينا المساجد في ساحتنا وأذنا فيها ، وفي لفظه لم يحسنوا أن يقولوا : أسلمنا ، فقالوا: صبأنا صبأنا ، قال فما بال السلاح عليكم ؟ قالوا : إن بيننا وبين قوم من العرب عداوة فخفنا أن تكونوا هم فأخذنا السلاح ، قال : فضعوا السلاح فوضعوا ، فقال : استأسروا فأمر بعضهم فكتف بعضاً وفرقهم في أصحابه فلما كان السحر نادى منادي خالد : من كان معه أسير فليقتله ، فقتل بنو سليم من كان معهم  وامتنع المهاجرون والأنصار رضي الله عنهم ، وأرسلوا أسراهم فلما بلغ النبي صلى الله عليه وسلم ما فعل خالد ، قال : اللهم إني أبرأ إليك مما صنع خالد ، قال ذلك مرتين .

Mencaci Muslim Itu Suatu Kefasikan, Membunuhnya Adalah Suatu Kekufuran (2-dua)

Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa ketika Khalid bin Walid sampai pada kaum Judzaimah, mereka menyambutnya dengan baik. Lalu, Khalid berkata: “Bagaimanakah kalian? Sudah muslim atau masih kafir?” Mereka menjawab: “Kami adalah muslimin. Kamipun telah biasa mendirikan shalat, membenarkan kenabian Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Kami juga telah membangun beberapa masjid dihalaman rumah kami, dan kami biasa mendengungkan adzan didalamnya.” Mereka tidak mengatakan : “Aslamnaa; ” kami telah masuk islam” atau ” kami telah menyerah”, tetapi : “Shaba’na, shoba’na” “Kami menyerah, kami menyerah”. Kemudian, Khalid bin Walid berkata kepada mereka: “Mengapa kalian masih menyandang pedang?” Mereka menjawab : “Sesungguhnya diantara kami dan sebagian orang-orang arab ada permusuhan. Kami takut, jangan-jangan kalian seperti mereka itu. Maka kamipun tetap menyandang pedang.” Khalid bin Walid berkata : “(Sekarang) simpanlah pedang kalian!” Mereka akhirnya meletakkan pedangnya.