Keluarga Besar

Abuya Sayyid Muhammad ibn Alawy Al-Maliki Al-Hasani

Abuya Sayyid Alawy

ibn Sayyid Abbas Al-Maliki Al-Hasani

Abuya Sayyid Muhammad

Ibn Alawy Al-Maliki Al-Hasani

Abuya Sayyid Muhammad

Ibn Alawy Al-Maliki Al-Hasani

Sayyid Ahmad

Ibn Muhammad Al-Maliki Al-Hasani

 

Kalam Hikmah Abuya Sayyid Muhammad

HABIB-MUHAMMAD-BIN-ALWI

مَا أِعْطَيْتُ أَحَدًا عَطِيَّةً وَأَنَا مِنْهَا مُسْتَكْثِرُ .. بَلِ الْعَـكْسُ.

Aku tidak pernah memberi sesuatu kepada seseorang lalu aku merasa telah memberinya yang banyak…bahkan sebaliknya.

Beragam Kebaikan dan Syaratnya

Abuya-sayyidmuhammad

Bahasan sebelumnya pada Kasyful Ghummah masih di seputar Muqaddimah. Kali ini kita lanjutkan pembahasannya. Selamat mengikuti.

Macam – Macam Kebaikan

Kebaikan  ( al Ma’ruf ) ada dua macam; ucapan dan pekerjaan. Ucapan seperti ucapan yang baik, pergaulan dan usaha menumbuhkan rasa sayang dengan ucapan yang baik yang terdorong atau sebagai reaksi kebaikan budi pekerti dan watak yang lembut. Tetapi tidak boleh berlebihan yang akhirnya menjadi tecela ( tidak terpuji ). Jika bermadia dan tengah – tengah maka itu adalah kebaikan yang terpuji. Dalam hikmah dinyataka:

          مَنْ قَلَّ حَبَاؤُهُ قَلَّ أَحِبَّـاؤُهُ

Barang siapa kurang bergaul maka kurang pula orang – orang yang menyukainya

Amal adalah mendermakan kedudukan, menolong dengan sepenuh jiwa dan memberikan bantuan saat kesusahan. Motivasi semua itu adalah rasa suka bila orang lain mendapat kebaikan, dan mendahulukan kebaikan untuk mereka. Dalam semua hal ini tidak ada istilah berlebihan atau batasan puncaknya. Sebab meski banyak sekali yang dilakukan pada hakikatnya memberi dua manfaat; manfaat kepada orang yang melakukan yang berupa mendapat pahala dan sebutan baik dan manfaat bagi orang yang ditolong yang berupa keringanan dan bantuan.

Rapat Pra Multaqo Sanawi Ke-24 Sukorejo

pramultaqo-1

Suasana Musyawarah Pra Multaqo Sanawi Internasional Ke-24 Hai’ah Ash Shofwah di Maktab Markazi Surabaya. Hadir dalam musyawarah kali ini beberapa habaib dan kiai, antara lain Abina K.H.M Ihya Pujon, Habib Zen Baharun Bangil, K.H. Najih Maimun Sarang, K.H. Sholeh Basalamah Brebes, K.H. Ali Imron Parengan Lamongan, K.H. Sadid Jauhari Kencong, K.H. Azaim Ibrohim Sukorejo Situbondo, Habib Husein al-Haddad Lamongan, dan beberapa Masyaikh lainnya.

Kedudukan Makhluk (1-Satu)

mafahim

oleh | Abuya Sayyid Muhammad ibn Alawi Al-Maliki Al-Hasani
diterjemahkan oleh | Ust. Kamal Muhlis

مقـام المخلـوق   1

أما هو صلى الله عليه وسلم فإننا نعتقد أنه صلى الله عليه وسلم بشر يجوز عليه ما يجوز على غيره من البشر من حصول الأعراض والأمراض التي لا توجب النقص والتنفير كما قال صاحب العقيدة :

وجائز في حقهم من عرض   ::   بغير نقص كخفيف المرض

وأنه صلى الله عليه وسلم عبد لا يملك لنفسه ضراً ولا نفعاً ولا موتاً ولا حياة ولا نشوراً إلا ما شاء الله ، قال تعالى : } قُل لاَّ أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعاً وَلاَ ضَرّاً إِلاَّ مَا شَاء اللّهُ وَلَوْ كُنتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لاَسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ إِنْ أَنَاْ إِلاَّ نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ { الأعراف : 188.

Kedudukan Makhluk   1

Berkenaan dengan Nabi Muahmmad shallallahu ‘alaihi wasallam, kita meyakininya sebagimana manusia biasa. Oleh kerana itu, bisa saja beliau terkena apapun yang biasa terkena manusia lainnya, seperti sifat-sifat kemanusiaan dan berbagi penyakit, yang tidak mengurangi kredibilitasnya sebagai Nabi dan tidak mengubahnya.

Dzakhair Muhammadiyah: Fakta Sebenarnya Ayah dan Ibunda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam

nabawi-1

Pembahasan Dzakhair Muhammadiyah karya Abuya As Sayyid Muhammad bin Alawy Al-Maliki Al-Hasani, artikel sebelumnya adalah Seputar Kelahiran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hingga juru tulis Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Kali ini pembahasana adalah fakta yang sebenarnya mengenai Ayah dan Ibunda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Berikut terjemahannya :

Fakta sebenarnya mengenai apa yang dinisbatkan kepada Imam Abu Hanifah tentang hak ayah bunda al-Musthafa (sosok nabi terpilih) shallallahu ‘alaihi wasallam. dan keterangan rujuknya Mulla Ali al-Qari terhadap pendapatnya tentang ayah bunda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Syeikh Musthafa al-Hamami telah menulis mengenai hal itu dalam (majalah) an-Nahdlah al-Ishlahiyah yang ringkasannya adalah: Tampak ada satu risalah yang dinisbatkan kepada Syeikh Mulla Ali al-Qari dengan judul “Dalil-dalil keyakinan Imam Abu Hanifah mengenai ayah bunda Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam.” Dia (al-Qari) bicara di dalamnya tentang kedua orangtua Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. suatu pembicaraan yang seharusnya dia tidak membicarakannya, karena pembicaraan ini menyakiti hadirat penghulu alam, baginda kita, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan adalah suatu kemungkaran yang besar jika dia sampai menyakiti hadirat Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam.